SlideShow

0

The Net Evil Part 4


Oke, ini mungkin tambah makin gaje.. soo ,, here we go :)

 

Perjalanan semakin menyeramkan ditambah dengan para banci yang ikut didalam mobil mereka.
Syahrini kemudian berlagak bagaikan Tour Guide dengan bahasa bencongnya. Melepas ketegangan dimobil.
“Eheem, para penumpang lekong, yuhuuu atensiong plis dueeh. Bekudis tempel semen alias Ledis en Jentelmen”
“Diem Banci!”, Teriak Dody, namun sepertinya sang Banci masih nyerocos tak menghiraukan.
“Sesuai peraturan perjalanan, Jadi eike di mawar melati anggrek berbunga-bunga sepanjang hari, Mau nawarin yeiy semua cara makarena sabuk pengaman nih, aih emangnya kondom kalee ah pengaman.. hihihihihihi” (Dzikir yah kalo udah baca, kwkwk)
“Mawar melati udah mati ah elo”, Dody masih belum nyerah.
“Syirik DEH AH”, Si banci marah dan membuat Dody diem keselek. Dan melanjutkan.
“Coba sindang liat eke cara pasang itu sabuk yang ngelilit dipinggang yeiy, Cara ngunciinnya biar yeiy enggong kelepas kalo Bisnya jedukan, Cucok gaaa?”
Kemudian Susi melanjutkan.
“Oke deh yah Cyin, capcusss jalan. Jengong lupita sebelum berangkat berdoa ya cyiiinn. Biar kalo metong yeiy ga penaserong, nanti kayak Nenek Payung dehhh.. eeemmm.. Yuuu.. Marreeee”, Susi dengan kedipan matanya yang hampir membuat seluruh penumpang tertawa hingga muntah melihat tingkah laku mereka.
“ITU GAYUNG!”, Dody menyangkal.
“Oh, udah ganti toh mas. Hoalah,habisnya Ipad ku habis paketnya, jadi nda bisa browsing. Ketinggalan jaman toh aku.”
“DARI DULU JUGA GAYUNG, BUKAN PAYUNG!”
“WOI MAS NYANTE BISA GA NGOMONGNYA, EKE PEREMPUAN TAU!”, Susi nyahut.
*Dody Ngunyah jok mobil*

Dwita melamun, entah apa yang ia lamunkan. Sejak awal Hamna bertemu dan sekarang, ia selalu melamun.
“Hey, ada apa?”, Hamna  menegur.
“Eh, Gapapa”, Dwita mengusap pipinya, nampak basah.
“Yakin? Gapapa?”, (DIH Kepo nyaaaaaaa -_-)
“Ah, iya. Sebentar lagi lab tempat ayah ku bekerja lewat, jadi kita mampir dulu ya.”, Ucapnya.
“Ya jelas, itu kan tujuan mu ikut dengan kami?”
Dwita mengangguk.
Hamna penasaran dengan ‘Payung Corp’, tidak sengaja ia lontarkan pertanyaan ke dwita.
“Ayah mu, bekerja di Payung Corp? Disitu tempat pembuatan Payung?”, (Sumpah pertanyaan ngaco)
“Bukan, dia seorang Ilmuwan. Entah apa yang ia lakukan disana”, Sahut Dwita.
“Ilmuwan? Tapi apa hubungannya Ilmuwan dengan Payung ya..”
“Entahlah, tapi ayah pernah bilang padaku, bahwa ia lelah, dan ingin berhenti bekerja disana.” Ia terdiam, dan menitikkan airmata. “Tapi entah kenapa, Akhir-akhir ini dia malah tidak berhenti bekerja, Namun hampir tidak pulang selama seminggu.”
“Bagaimana dengan Ibumu?”
“Ibu membantu ayah, mereka berdua sama-sama Ilmuwan, Kau tahu? Mereka berdua pasangan yang cocok. Hahaha”, terdengar suara tawa yang lirih. Semacam ada kejanggalan dari tawaannya.
“Baiklah, kita akan kesana.” Ucap hamna senyum.
Dody dan Dayat Melihat dari kaca spion, Mereka tersenyum seperti Homo -_- (Dih)

Dwita diam lagi, ingatan tentang malam itu tebersit dipikirannya.
entah kenapa setelah malam itu ia merasa aneh.
Malam dimana sebelum ayahnya berubah, berubah menjadi workholic.
Ayahnya selalu memperhatikannya, hingga akhirnya ia tertidur.
Tidak lama, ia merasa sakit tertusuk jarum, dan setelah bangun ia melihat ayahnya, membelai dahi sambil tersenyum. Namun ia merasa mengantuk sekali, hingga akhirnya tertidur kembali.
Saat terbangun, ia merasa aneh, ia merasa segar, dan merasa menguat.
Tapi setelah itu ia tidak pernah menemui ayahnya lagi, karena sibuk bekerja, sang ayah hanya menelepon dari tempat kerjanya.
“Halo, Dwita, Kamu tidak apa-apa kan?”, Pertanyaan itu yang selalu ditanyakan oleh Orang tuanya.
Kalo mereka peduli, seharusnya mereka pulang, tidak usah menelepon. Ucap dwita dalam hati.
Dan setelah malam itu pula, ia merasa selalu dibuntuti oleh seseorang. Dan setiap hari orang itu membuntuti, seolah-olah ingin menculiknya.
Dan terakhir, terakhir kali Ayahnya menelepon, dan saat itu pula Ayahnya berteriak kesakitan. Yang ada dipikarannya hanya khawatir, dan penasaran. Apa yang terjadi dengan ayah.
Sejak saat itu, ia hanya penasaran, dimana ayah dan ibunya, Ibu yang sama sekali tak ada kabar.
Dan setelah semua itu, Dunia ini pun berubah, berubah menjadi kota mati.

Muncul lagi tetesan air mata dwita, Hamna hanya memperhatikan dan bergumam.
“Semua menunggu waktu, ada kala dia akan memberi tahu apa yang ia sedihkan”
“Apa ham?, Dayat mendengar sedikit gumamannya.
“Gak papa, ga penting-penting banget deh”, Ucapnya.
“Oiya, kenapa ga ada kabar dari Dody yah? Dari Bis.”, Kata Dayat.
“Iya, harusnya kan ada kabar juga tiap menit atau jam”, Sahut hamna.
Setelah mereka memperhatikan Walkie Talkie Jeep, mereka baru sadar kalo Walkie Talkie itu dalam keadaan Mati. “Mampus”
“Sssssss.. Jeep ke Bus, Jeep ke Bus, Bagaimana Keadaan di Bus....sssssss....”
“Ssssss..WOI KALIAN KEMANA AJA DI HUBUNGIN GAK NYAHUT..sssssss”, Dody Kebakaran jenggot.
“Sssssss..sssss.Sorry mas beroo, HT nya kemati, gak ngecek tadi.. wkwkwk..Sssss”
“Gue pengen mampus dah satu bis sama nih Banci-banci, dari tadi nyerocos Muluu..sssssss” Tak lama kemudian HT Bis bersuara lagi. “Eyy, Yeiy semua gemonong kabarnya Di Jeep Cyiinn.. Kapan Berhenti, Akika pengen Boker niihh, Aaahh ga tahaann ..”, Nampaknya si Eni yang berbicara.
“Sssssss.. Nanti ya, Tahan..”, Sahut dayat kalem.
“Sssss... Jangan lemong-lemong yaaa, nanti akika keburu pipis dicelanaa, aaah ga pengen deh yaa..sssssss”
Dayat yang mendengar langsung bergidik dan mematikan HT. Semua yang di Jeep juga merinding mendengar Si Eni bicara gaya banci.
“Dari HT aja udah kayak gitu, gimana didalam bis, bisa-bisa tuh Banci malah ngamen deh”, Ucap dayat.
Semua yang ada di Jeep tertawa, dan Dwita seperti biasa, tertawa seadanya, Seraya melotot, dan berucap. “Disana, Berhenti disana”. Menunjuk sebuah bangunan Besar yang ada dikejauhan.
“Disana Payung Corp?”, Tanya Hamna.
“Ya, disana, Pastikan kita kesana.” Jawabnya.
“Ya, Pasti”, hamna senyum.

“Ham, apa ga bahaya, Kita ke tempat dimana Virus itu dibuat?”, Tanya Dayat.
“Bahaya, tapi kita harus mencari petunjuk, Dari sana kita akan dapat petunjuk”, Ucap Hamna.
“tapi kan, membahayakan kita semua, Apa tidak usah saja.”
“Kita pergi, dan mencari orang-orang yang selamat, terus saja kita lakukan itu, Apa ada hasilnya?”
“Ada, Banyak orang yang selamat lah”
“Ingat, persediaan makanan kita, segala macam. Tidak ada artinya kita menyelamatkan tanpa mencari Penawar racun itu.”, Kata Hamna
Dayat terdiam.
“Kita kesana, dengan alasan mencari penyebab, dan mencari solusi agar kota ini menjadi seperti semula”, Jelas Hamna.
Dayat hanya mengangguk paham, ia hanya memikirkan melindungi tanpa menyelamatkan.

Perjalanan mereka berlanjut, Tujuan mereka ada dihadapan.
Apa yang akan terjadi? Apa didalam itu penuh Banci? Atau Zombie? Atau Zombie Banci?
Apa Nicolas Saputra Mirip Hamna? *abaikan*
Apa Cinta Laura akan kembali ke Indonesia? (*Plak)

-To be Continued-

0 komentar:

Posting Komentar