Hamna, Dody dan Dayat tidak tidur, mereka bermaksud menjaga para Gamers dari serangan Zombie yang mungkin muncul tiba-tiba.
“Ham, Kita tak mungkin berada disini terus-menerus kan?”, Kata Dayat memecah keheningan.
Ya, tak mungkin terus menerus berada ditempat ini, mungkin juga tempat ini sasaran para Zombie diluar sana.
“Mungkin kita habiskan persediaan makanan disini, baru kita akan pergi dari sini”, Jawab Hamna.
“Bagaimana kita bertahan diluar sana? Apa yang akan kita lakukan? Kita tak memiliki senjata kawan”, Engah Dody.
“Entahlah, coba kita cari disekeliling ruangan, cari balok, pisau atau benda apapun yang bisa melukai”, Jawab Dayat.
Mereka bertiga segera berpencar mencari benda tajam. Setelah setengah jam mencari, akhirnya mereka menemukan beberapa Pisau dapur, Pisau Camping, Bat Baseball dan juga Samurai. (Bentar, Ini kok sadis-sadis semua yak bendanya..).
Alex terbangun, ia menghampiri ketiga pemuda itu. “Apa yang kalian lakukan?”, tanya nya.
“Kami sedang mencari benda untuk melawan Zombie kalau-kalau menyerang.”, Sahut Dody Tegas.
“Dod, Frontal bener”, sahut Hamna. “Alex, Lebih baik kamu istirahat”
Alex melongo, dan ia pun kembali ke kamar Chris dan berbaring. Tangannya meraba-raba dibawah bantal, hingga ia menemukan secarik kertas.
“18052012” Ia bingung, Apa maksud Angka itu. Dan mengantongi potongan kertas itu.
Hamna, Dayat dan Dody masih mencari benda. Hamna memasuki kamar Chris, menemui Alex yang tidak tidur.
“Ada apa, kenapa ga tidur?”, Tanya Hamna.
“Entahlah”.
Hamna berjalan menuju Ranjang Alex, tapi tiba-tiba kakinya terperosok dilantai.
Lubang kecil dengan alat bertombol bertuliskan angka terdapat dibawah lantai tepat dimana Hamna terperosok tadi.
Apa itu, Apa sebuah kalkulator atau apa. Hamna mencoba menarik Alat itu, namun tak bisa.
Ia coba menekan-nekan nomor itu sembarang, dan tidak ada hasil. “Coba ini” Sahut Alex sambil menyodorkan Secarik kertas itu ke Hamna.
“Apa ini?” Kata Hamna, “Coba saja”.
Ia mencoba, dan tiba-tiba Dinding Kamar Chris bergetar dan membuat sebuah pintu masuk.
Hamna dan Alex memasuki Pintu tersebut, dan mereka menemukan Sebuah ruangan yang dipenuhi dengan Senjata lengkap dengan amunisi.
Hamna dan Alex melongo, seolah tak percaya ini benar-benar ada. Berarti Paket-paket yang sering diterima oleh Chris itu adalah Senjata-Senjata ini? Tapi untuk apa?.
“Yat, coba cubit gue deh, apa ini mimpi”, Tanya Hamna.
Apa mungkin Chris sudah memperhitungkan apa yang akan terjadi, atau dia hanya mengoleksi senjata-senjata ini? Tapi bila hanya untuk mengoleksi, untuk apa dia juga membeli amunisi yang begitu banyak, serta menyediakan sebuah tas besar untuk senjata itu.. Semua itu menjadi misteri..
Hamna, Dody dan Dayat serta di bantu Alex mengisi Senjata-senjata itu dengan amunisi yang ada, mereka bermaksud membagikan senjata itu ke Gamers lain, dan berencana untuk meninggalkan gedung Net itu.
Keesokan Paginya.
“Baik, Teman-teman. Kita mungkin akan segera meninggalkan tempat ini, untuk mencari bala bantuan atau membantu para survivor yang masih ada diluar sana.” Ucap Hamna. “Kita memiliki cukup banyak senjata dan Amunisi, jadi gunakan sebaik-baiknya”.
Para Gamers pun menjadi kebingungan, tanpa pikir panjang mereka segera mengambil Senjata yang disediakan.
Ada banyak macam senjata, mulai dari Pistol, Rifle, Assault Rifle, Shotgun, Sub-Machine Gun, Granat, dan Pisau camping.
Para Gamers hampir terlatih menggunakan senjata, ya karena mereka sering melihat bagaimana cara nya menembak dan me-Reload amunisi saat bermain game, (Ternyata ada untungnya bermain game *ngasal)
Mereka pun juga mengisi tas besar itu dengan persediaan makanan, dan obat-obatan yang d temui di warnet itu. Saatnya menghadapi Kenyataan, apa yang terjadi diluar.
Blokade yang menghalangi pintu depan mereka singkirkan, siap tidak siap mereka harus membuka pintu itu dan mencari bantuan.
“kreeett”, Pintu terbuka, dan disana masih tergeletak mayat Ihsan dan Chris yang terkena tabokan CPU.
Gamers bergidik ngeri dan segera bercepat-cepat meninggalkan warnet itu.
Diluar warnet, mereka menemukan Kota Mati, ya Tanpa ada kehidupan sama sekali, persis seperti game. “Apa yang dipikirkan para pembuat virus ini? Kehancuran dunia? Memperbaharui dunia? Salah besar yang mereka lakukan ini”, Gumam Hamna.
“Okee Cyinn, Matanya yey semua jangan merem yoo, yey semua harus lihat sekitar yo cyiinn, jangan sampose yey sama eke semua digigit zombiee, Okee cyiiinnnn”, (*abaikan, Nampaknya ada Gamers Banci -_-)
“Banci, Diem”
“Akika ga mau diem sebelum di cipook Booo”
“Cuekin”
*krik**krik*
Mereka menyusuri jalan raya, hanya ada mayat dan mobil bersimbah darah yang ada. Mungkin Zombie itu berkelompok mencari mangsa. Mereka melewati sebuah Rumah yang terkunci rapat, nampak rumah itu kelihatan lebih hidup dari rumah-rumah yang disebelahnya, Rumah itu dikelilingi oleh Pagar Besi besar bergembok dengan tulisan ‘Awas Anjing Galak’ didepannya.
Hamna mencoba menaiki pagar itu, diikuti oleh Dayat. “Dod, Lu jaga disini ya? Awasi kalau ada yang aneh, ingat hemat peluru, gue cari kunci dulu biar ngebuka nih gembok”, Ucap Hamna.
Dody mengiyakan dan menyuruh gamers untuk berjaga-jaga.
Hamna dan dayat berada di dalam pagar itu, “Hey, Hati-Hati kalau ada anjing Galak ya bro”, Dody mengingatkan.
Dijendela itu nampak seseorang sedang memperhatikan gerak gerik Hamna dan Dayat. Hamna sekilas melihat bayangan itu, dan segera berlari menuju depan pintu.
“Permisi, Tolong buka pintunya!!”, Teriak Hamna. Dayat berjaga-jaga dibelakang Hamna kalo saja terjadi apa-apa.
“Untuk apa aku membuka pintu?”, Suara gadis menyahut.
“Kami tidak bermaksud jahat, kami hanya ingin mengungsi”, Jawab Hamna. “Tidak mungkin kan kau tega membiarkan kami diluar?”
“Mungkin saja, sana pergi!”, teriak gadis itu.
“Izinkan Kami menginap sehari saja!”
“Sudah lah ham, lebih baik kita pergi saja, masih banyak tempat lain”, ucap dayat.
Hamna mengiyakan, dan mereka kembali.
Dari Jendela, Dwita melihat dua orang pemuda yang ingin mendobrak masuk pintu rumahnya kembali menaiki pagar yang ia kunci.
Ia melihat banyak orang yang ada diluar sana, kelihatan wajah panik dan ketakutan, ia merasa sedikit iba namun ia juga khawatir dan takut bila terjadi apa-apa dengannya. Tanpa pikir panjang ia segera membuka pintu dan berlari membuka Pagar besi yang ia kunci. “Masuk cepat, Sebelum aku berubah pikiran dan sebelum mereka datang”
Pemuda yang tadi berusaha mendobrak pintunya segera menyuruh kawanannya untuk masuk kedalam pagar dan rumah itu.
“Yakin kan aku kalau kalian bukan salah satu dari mereka, juga bukan kawanan perampok”. Tegas Dwita.
Pemuda itu hanya tersenyum dan membantunya mengunci pagar itu. “Tenang lah, kami adalah orang baik-baik”
Beberapa menit kemudian didalam rumah Dwita.
“Perkenalkan, namaku Irhamna, kau bisa memanggilku Hamna.”
“Ga usah banyak cincong, apa tujuan kalian”
“Kami hanya ingin menyelamatkan diri, serangan Zombie itu berawal dari teman kami”, Jelas Dayat.
“Zombie? Sebutan itu kah yg kalian sebut untuk mereka?”
“Ya, Mereka adalah mayat hidup, mungkin kau sudah tau”, Ucap Hamna.
‘Mayat Hidup’, Seperti di film-film saja, tetapi ini benar terjadi, baru semalam dia saat pulang sekolah dan ingin membuka pagar, ia melihat seorang yg bersimbah darah menghampirinya dengan tertatih-tatih, seperti minta tolong. Saat ia mendekat, ada seseorang yang berteriak “Jangan dekati dia, Segera masuk rumah dan Kunci pagar itu!”
Ia menoleh mencari arah suara itu, Terlihat seseorang yg bersimbah darah tadi mendekati dan menyerangnya, ia menggigitnya. Dwita Panik dan segera mengunci pagar itu, ia langsung mengunci pintu dan jendela rumahnya. Didalam rumah nampak sepi, ia mencoba menelepon orang tuanya yg mungkin masih bekerja di laboratorium.
“Dwita? Kamu baik-baik saja?”, dengan suara nada panik.
“Ayah, apa yang terjadi??”
“Kamu jaga diri dirumah, jangan pernah bukakan pintu kepada siapapun, tunggulah ayah akan menjemputmu .. .. .. .. Aaaarrggghhhhhh”, Tiba-tiba saja beliau berteriak kesakitan.
“Ayah.. Ayaahh???”, Telepon itu putus.
Ia semakin takut, dan hanya bisa menangis..
Tapi ia sadar tak selamanya ia harus menangis, ia masih selamat dan bisa bertahan hidup.
“Hei, Kamu kenapa?”, Sergah hamna memecah lamunannya
“Ah, tidak ada”, Sahutnya sambil mengusap pipinya.
“Dih, Hamna sok pake lembut segala, sama cewek pasti begitu” *abaikan*
“Kami mungkin hanya mencoba beristirahat sehari disini, mungkin esok hari kami akan pergi lagi”, Ucap Hamna.
“Pergi? Bisakah aku ikut?”, Dwita bertanya. “Aku ingin pergi ke tempat kerja ayahku, untuk memastikan dia baik-baik saja”
“Hmmm, Mungkin.. tidak mungkin kau akan terus berada dirumah ini kan?, jawab Hamna
“Ya, benar”
“Memangnya dimana ayahmu bekerja?”, Tanya Hamna.
“Sebuah laboratorium, perusahaan Payung.Corp”
“Apa? Payung.Corp?!”
“Yaa, ada apaa?”
“tidak ada apa-apa, bersiap lah untuk perjalanan esok. Istirahatlah, mungkin energimu akan terkuras esok”, jawab Hamna sambil tersenyum.
Dwita beranjak kekamarnya, dan berbaring terheran-heran. Ia bingung, kenapa Hamna seolah-olah terkejut dan panik mendengar “Payung.Corp”, apa semuanya berhubungan dengan apa yang terjadi saat ini.
Hamna menghampiri Dody dan Dayat.
“Ah lu ham, ga bisa liat cewek sedikit langsung dah dideketin”, Dody mengejek.
“Ck, bukan saatnya untuk membicarakan itu”, Sergah Hamna.
“Mulai deh, sok bijaknya”, Dayat ikut-ikutan. “Sudah-sudah, jadi bagaimana? Apa ia membolehkan kita menginap sehari disini”
“Menurutmu? Ya, dan nampaknya ia akan bergabung dengan kita esok”, Ucap Hamna.
“Apaa? Yang benar saja Ham, bagaimana persediaan makanan kita?”, Dody semacam tidak setuju.
“Tenang, Kota ini telah menjadi kota mati. Kita pergi saja ke Supermarket yg ada, dan tentunya kita harus berjaga-jaga”, Hamna menjelaskan.”Dan satu lagi, Ia ingin pergi ke tempat kerja ayahnya, Yaitu Payung.Corp”
“APA?!”, Dody dan Dayat saling menoleh.
“Ya, tepat dengan nama publisher yg tercantum di game “The Virus”
Nampaknya, perjalanan mereka menuju kebenaran tentang apa yang terjadi saat ini baru dimulai, Sejauh ini tidak ada serangan Zombie atau Kumpulan Banci (*loh) menyerang.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, tergantung dari apa yang akan mereka lakukan...
