SlideShow

0

The Net Evil Part 2


Hamna, Dody dan Dayat tidak tidur, mereka bermaksud menjaga para Gamers dari serangan Zombie yang mungkin muncul tiba-tiba.
“Ham, Kita tak mungkin berada disini terus-menerus kan?”, Kata Dayat memecah keheningan.
Ya, tak mungkin terus menerus berada ditempat ini, mungkin juga tempat ini sasaran para Zombie diluar sana.
“Mungkin kita habiskan persediaan makanan disini, baru kita akan pergi dari sini”, Jawab Hamna.
“Bagaimana kita bertahan diluar sana? Apa yang akan kita lakukan? Kita tak memiliki senjata kawan”, Engah Dody.
“Entahlah, coba kita cari disekeliling ruangan, cari balok, pisau atau benda apapun yang bisa melukai”, Jawab Dayat.
Mereka bertiga segera berpencar mencari benda tajam. Setelah setengah jam mencari, akhirnya mereka menemukan beberapa Pisau dapur, Pisau Camping, Bat Baseball dan juga Samurai. (Bentar, Ini kok sadis-sadis semua yak bendanya..).
Alex terbangun, ia menghampiri ketiga pemuda itu. “Apa yang kalian lakukan?”, tanya nya.
“Kami sedang mencari benda untuk melawan Zombie kalau-kalau menyerang.”, Sahut Dody Tegas.
“Dod, Frontal bener”, sahut Hamna. “Alex, Lebih baik kamu istirahat”
Alex melongo, dan ia pun kembali ke kamar Chris dan berbaring. Tangannya meraba-raba dibawah bantal, hingga ia menemukan secarik kertas.
18052012” Ia bingung, Apa maksud Angka itu. Dan mengantongi potongan kertas itu.
Hamna, Dayat dan Dody masih mencari benda. Hamna memasuki kamar Chris, menemui Alex yang tidak tidur.
“Ada apa, kenapa ga tidur?”, Tanya Hamna.
“Entahlah”.
Hamna berjalan menuju Ranjang Alex, tapi tiba-tiba kakinya terperosok dilantai.
Lubang kecil dengan alat bertombol bertuliskan angka terdapat dibawah lantai tepat dimana Hamna terperosok tadi.
Apa itu, Apa sebuah kalkulator atau apa. Hamna mencoba menarik Alat itu, namun tak bisa.
Ia coba menekan-nekan nomor itu sembarang, dan tidak ada hasil. “Coba ini” Sahut Alex sambil menyodorkan Secarik kertas itu ke Hamna.
“Apa ini?” Kata Hamna, “Coba saja”.
Ia mencoba, dan tiba-tiba Dinding Kamar Chris bergetar dan membuat sebuah pintu masuk.
Hamna dan Alex memasuki Pintu tersebut, dan mereka menemukan Sebuah ruangan yang dipenuhi dengan Senjata lengkap dengan amunisi.
Hamna dan Alex melongo, seolah tak percaya ini benar-benar ada. Berarti Paket-paket yang sering diterima oleh Chris itu adalah Senjata-Senjata ini? Tapi untuk apa?.
“Yat, coba cubit gue deh, apa ini mimpi”, Tanya Hamna.
Apa mungkin Chris sudah memperhitungkan apa yang akan terjadi, atau dia hanya mengoleksi senjata-senjata ini? Tapi bila hanya untuk mengoleksi, untuk apa dia juga membeli amunisi yang begitu banyak, serta menyediakan sebuah tas besar untuk senjata itu.. Semua itu menjadi misteri..
Hamna, Dody dan Dayat serta di bantu Alex mengisi Senjata-senjata itu dengan amunisi yang ada, mereka bermaksud membagikan senjata itu ke Gamers lain, dan berencana untuk meninggalkan gedung Net itu.
Keesokan Paginya.
“Baik, Teman-teman. Kita mungkin akan segera meninggalkan tempat ini, untuk mencari bala bantuan atau membantu para survivor yang masih ada diluar sana.” Ucap Hamna. “Kita memiliki cukup banyak senjata dan Amunisi, jadi gunakan sebaik-baiknya”.
Para Gamers pun menjadi kebingungan, tanpa pikir panjang mereka segera mengambil Senjata yang disediakan.
Ada banyak macam senjata, mulai dari Pistol, Rifle, Assault Rifle, Shotgun, Sub-Machine Gun, Granat, dan Pisau camping.
Para Gamers hampir terlatih menggunakan senjata, ya karena mereka sering melihat bagaimana cara nya menembak dan me-Reload amunisi saat bermain game, (Ternyata ada untungnya bermain game *ngasal)
Mereka pun juga mengisi tas besar itu dengan persediaan makanan, dan obat-obatan yang d temui di warnet itu. Saatnya menghadapi Kenyataan, apa yang terjadi diluar.

Blokade yang menghalangi pintu depan mereka singkirkan, siap tidak siap mereka harus membuka pintu itu dan mencari bantuan.
“kreeett”, Pintu terbuka, dan disana masih tergeletak mayat Ihsan dan Chris yang terkena tabokan CPU.
Gamers bergidik ngeri dan segera bercepat-cepat meninggalkan warnet itu.
Diluar warnet, mereka menemukan Kota Mati, ya Tanpa ada kehidupan sama sekali, persis seperti game. “Apa yang dipikirkan para pembuat virus ini? Kehancuran dunia? Memperbaharui dunia? Salah besar yang mereka lakukan ini”, Gumam Hamna.
“Okee Cyinn, Matanya yey semua jangan merem yoo,  yey semua harus lihat sekitar yo cyiinn, jangan sampose yey sama eke semua digigit zombiee, Okee cyiiinnnn”, (*abaikan, Nampaknya ada Gamers Banci -_-)
“Banci, Diem”
“Akika ga mau diem sebelum di cipook Booo”
“Cuekin”
*krik**krik*
Mereka menyusuri jalan raya, hanya ada mayat dan mobil bersimbah darah yang ada. Mungkin Zombie itu berkelompok mencari mangsa. Mereka melewati sebuah Rumah yang terkunci rapat, nampak rumah itu kelihatan lebih hidup dari rumah-rumah yang disebelahnya, Rumah itu dikelilingi oleh Pagar Besi besar bergembok dengan tulisan ‘Awas Anjing Galak’ didepannya.
Hamna mencoba menaiki pagar itu, diikuti oleh Dayat. “Dod, Lu jaga disini ya? Awasi kalau ada yang aneh, ingat hemat peluru, gue cari kunci dulu biar ngebuka nih gembok”, Ucap Hamna.
Dody mengiyakan dan menyuruh gamers untuk berjaga-jaga.
Hamna dan dayat berada di dalam pagar itu, “Hey, Hati-Hati kalau ada anjing Galak ya bro”, Dody mengingatkan.
Dijendela itu nampak seseorang sedang memperhatikan gerak gerik Hamna dan Dayat. Hamna sekilas melihat bayangan itu, dan segera berlari menuju depan pintu.
“Permisi, Tolong buka pintunya!!”, Teriak Hamna. Dayat berjaga-jaga dibelakang Hamna kalo saja terjadi apa-apa.
“Untuk apa aku membuka pintu?”, Suara gadis menyahut.
“Kami tidak bermaksud jahat, kami hanya ingin mengungsi”, Jawab Hamna. “Tidak mungkin kan kau tega membiarkan kami diluar?”
“Mungkin saja, sana pergi!”, teriak gadis itu.
“Izinkan Kami menginap sehari saja!”
“Sudah lah ham, lebih baik kita pergi saja, masih banyak tempat lain”, ucap dayat.
Hamna mengiyakan, dan mereka kembali.

Dari Jendela, Dwita melihat dua orang pemuda yang ingin mendobrak masuk pintu rumahnya kembali menaiki pagar yang ia kunci.
Ia melihat banyak orang yang ada diluar sana, kelihatan wajah panik dan ketakutan, ia merasa sedikit iba namun ia juga khawatir dan takut bila terjadi apa-apa dengannya.  Tanpa pikir panjang ia segera membuka pintu dan berlari membuka Pagar besi yang ia kunci. “Masuk cepat, Sebelum aku berubah pikiran dan sebelum mereka  datang”
Pemuda yang tadi berusaha mendobrak pintunya segera menyuruh kawanannya untuk masuk kedalam pagar dan rumah itu.
“Yakin kan aku kalau kalian bukan salah satu dari mereka, juga bukan kawanan perampok”. Tegas Dwita.
Pemuda itu hanya tersenyum dan membantunya mengunci pagar itu. “Tenang lah, kami adalah orang baik-baik”
Beberapa menit kemudian didalam rumah Dwita.
“Perkenalkan, namaku Irhamna, kau bisa memanggilku Hamna.”
“Ga usah banyak cincong, apa tujuan kalian”
“Kami hanya ingin menyelamatkan diri, serangan Zombie itu berawal dari teman kami”, Jelas Dayat.
“Zombie? Sebutan itu kah yg kalian sebut untuk mereka?”
“Ya, Mereka adalah mayat hidup, mungkin kau sudah tau”, Ucap Hamna.
‘Mayat Hidup’, Seperti di film-film saja, tetapi ini benar terjadi, baru semalam dia saat pulang sekolah dan ingin membuka pagar, ia melihat seorang yg bersimbah darah menghampirinya dengan tertatih-tatih, seperti minta tolong. Saat ia mendekat, ada seseorang yang berteriak “Jangan dekati dia, Segera masuk rumah dan Kunci pagar itu!”
Ia menoleh mencari arah suara itu, Terlihat seseorang yg bersimbah darah tadi mendekati dan menyerangnya, ia menggigitnya. Dwita Panik dan segera mengunci pagar itu, ia langsung mengunci pintu dan jendela rumahnya. Didalam rumah nampak sepi, ia mencoba menelepon orang tuanya yg mungkin masih bekerja di laboratorium.
“Dwita? Kamu baik-baik saja?”, dengan suara nada panik.
“Ayah, apa yang terjadi??”
“Kamu jaga diri dirumah, jangan pernah bukakan pintu kepada siapapun, tunggulah ayah akan menjemputmu .. .. .. .. Aaaarrggghhhhhh”, Tiba-tiba saja beliau berteriak kesakitan.
“Ayah.. Ayaahh???”, Telepon itu putus.
Ia semakin takut, dan hanya bisa menangis..
Tapi ia sadar tak selamanya ia harus menangis, ia masih selamat dan bisa bertahan hidup.
“Hei, Kamu kenapa?”, Sergah hamna memecah lamunannya
“Ah, tidak ada”, Sahutnya sambil mengusap pipinya.
“Dih, Hamna sok pake lembut segala, sama cewek pasti begitu” *abaikan*
“Kami mungkin hanya mencoba beristirahat sehari disini, mungkin esok hari kami akan pergi lagi”, Ucap Hamna.
“Pergi? Bisakah aku ikut?”, Dwita bertanya. “Aku ingin pergi ke tempat kerja ayahku, untuk memastikan dia baik-baik saja”
“Hmmm, Mungkin.. tidak mungkin kau akan terus berada dirumah ini kan?, jawab Hamna
“Ya, benar”
“Memangnya dimana ayahmu bekerja?”, Tanya Hamna.
“Sebuah laboratorium, perusahaan Payung.Corp”
“Apa? Payung.Corp?!”
“Yaa, ada apaa?”
“tidak ada apa-apa, bersiap lah untuk perjalanan esok. Istirahatlah, mungkin energimu akan terkuras esok”, jawab Hamna sambil tersenyum.
Dwita beranjak kekamarnya, dan berbaring terheran-heran. Ia bingung, kenapa Hamna seolah-olah terkejut dan panik mendengar “Payung.Corp”, apa semuanya berhubungan dengan apa yang terjadi saat ini.

Hamna menghampiri Dody dan Dayat.
“Ah lu ham, ga bisa liat cewek sedikit langsung dah dideketin”, Dody mengejek.
“Ck, bukan saatnya untuk membicarakan itu”, Sergah Hamna.
“Mulai deh, sok bijaknya”, Dayat ikut-ikutan. “Sudah-sudah, jadi bagaimana? Apa ia membolehkan kita menginap sehari disini”
“Menurutmu? Ya, dan nampaknya ia akan bergabung dengan kita esok”, Ucap Hamna.
“Apaa? Yang benar saja Ham, bagaimana persediaan makanan kita?”, Dody semacam tidak setuju.
“Tenang, Kota ini telah menjadi kota mati. Kita pergi saja ke Supermarket yg ada, dan tentunya kita harus berjaga-jaga”, Hamna menjelaskan.”Dan satu lagi, Ia ingin pergi ke tempat kerja ayahnya, Yaitu Payung.Corp”
“APA?!”, Dody dan Dayat saling menoleh.
“Ya, tepat dengan nama publisher yg tercantum di game “The Virus”

Nampaknya, perjalanan mereka menuju kebenaran tentang apa yang terjadi saat ini baru dimulai, Sejauh ini tidak ada serangan Zombie atau Kumpulan Banci (*loh) menyerang.
Apa yang akan terjadi selanjutnya, tergantung dari apa yang akan mereka lakukan...
0

Obsesi Rhoma Irama :D (Lypsynch bikin ngakak)

Gue nemu ni video di blognya bang Bena .. Waktu ngeliat sumpah ngakak, mimik wajah sama Lypsynch nya itu keren abis, mirip banget ama bang Rhoma dah :D



0

Untitled :)

Hey..
Lagi bingung nyari inspirasi buat lanjutan 'The Evil", Niatnya pengen bkin jadi cerita yang Epic, yang rada-rada jadi Komedi gitu, nah ini? ga tau jadinya apaan.

Oke, Why the Title is named "Untitled"?
Cause i don't know what should be the right name to fill that Title.
Yap, jelas postingan kali ini mungkin campur-campur, hahahaha..

Baru aja gue baca-baca postingan Blog gue sebelumnya. ahahhaha
Kocak, mikir sendiri sebagaimana alaynya gue terhadap seorang perempuan.. hahaha
Ya wajar, ABG lah .. Mungkin itu masa lalu, supaya kita bisa melewati nya di masa depan.. (ya ya bla bla *Ga ngerti)
Oke, Sekarang saatnya untuk berubah menjadi lebih dewasa, yaa Change from a boy into a Men :)
Karena gue udah lulus SMP *Horeeeeeeeee*
Tapi tetep aja gue kecewa karena gue ga bisa masuk SMA yg gue inginin, yaa mungkin kena Karma kali ya :')
Atau Mungkin Tuhan memberikan jalan yang sudah ditentukanNya..

Mungkin sekarang gue tenang, kenapa?
First, gue udah lulus SMP :) Tapi itu juga nimbulin masalah baru.. karena gue mesti ribet nyari SMA, belum lagi beli baju SMA.. (Good bye Blue uniform, welcome Grey Uniform ^^), daann.. Mesti berpisah sama Pacar gue yang dianya masih menempuh Sekolah di SMP dalam jalur aksel :')
Kedua, Ya itu tadi. Gue tenang udah ada pengganti (ya walaupun gonta ganti*caileh, sok laku bener lu* *plak) Pacar maksudnya :)

So, My life goes on and on. And my new future is on my front :)
Ingat kawan, Masa depan itu tergantung dari kita ya, kalau kita dari sekarang aja ga berubah menjadi lebih baik, mungkin masa depan kita akan lebih buruk dari kita sekarang.
sebaliknya, kalau kita mencoba berubah menjadi lebih baik dari sekarang, ya kemungkinan Masa depan kita akan Cemerlang :) (Bukan berarti banyak temen yg dapat masa depan suram, ya usaha lah)
Oke, Our Future is on our Reach :)

Jadi, Karena isinya Random.. makanya postingan kali ini disebut 'Untitled', Karena Isinya Random..
Thanks for Coming to my blog :)
0

The Net Evil


Adalah main Game Online, salah satu kegiatan rutin bagi Hamna disaat luang. Mungkin baginya Game Online itu adalah makanan pokok yang harus dipenuhi setiap harinya.
Baginya, Game Online adalah pelepas dari rasa galau yang selalu menghampirinya (kalo pas lgi putus sama pacar, sekarang engga punya yang baru sih :3).
Suatu hari, di warnet tempatnya biasa bermain. Seperti biasa teman temannya Gamers nya sudah duduk didepan PC masing-masing dengan Headphone besar menutupi telinganya.
Hamna kemudian berjalan menyusuri PC temannya sambil melihat apa yg mereka mainkan, dan seperti biasa seorang temannya bernama Ihsan memainkan Game Online kesukaannya dengan mata merahnya, (mungkin karena terlalu lama bermain) dia memang Maniak Game karena bermain Game 10 Jam perhari (waduh). Tak lama kemudian.
“YEESS!! Aku Berhasil Memenangkan Kompetisi Game ini!” Teriak Ihsan berteriak memecah kesunyian warnet.
Para Gamers lainnya segera memenuhi sisi-sisi PC dimana Ihsan bermain, Hamna pun ikut melihat karena dari tadi dia berada dibelakang Ihsan.
Tertulis, ‘Congratulations, You have Won This Competition Game, Your reward Will sent One Hour after you write your location’
Hamna Bingung melihat tulisan itu, Karena tidak mungkin sebuah Publisher Game memberi Hadiah langsung di Game, harusnya ada tempat khusus untuk bertemu. Tapi dia indahkan saja dan ikut memeriahkan kemenangan Ihsan. Ihsan yang dari tadi senang telah memenangkan kompetisi itu kemudian mulai menunggu hadiahnya datang.
Sejam berlalu, Seseorang yang misterius berjubah dan berkacamata hitam datang  membawa sebuah paket.
“Mana Yang bernama Ihsan?” Seru Orang misterius itu, Kemudian Ihsan mendekati dan menerima paketnya. Gamers lain yang ada didalam Net tersebut hanya melongo.
Lelaki itu pergi dan hilang diantara padatnya mobil diluar net.
Ihsan segera membuka Paket, dan isinya adalah Software Game terbaru, ‘The Viruses’. Saking maniaknya ia langsung memasukkan CD itu kedalam CD-ROM tanpa membaca CD-Case nya.
Hamna Memungut CD-Case itu dan membacanya.
“Aneh”, Gumam Hamna, CD-Case biasanya memuat larangan-larangan  tentang game itu, namun di CD-Case ini sama sekali tak ada Larangan apapun. Tapi ada suatu tulisan kecil dibawah CD-Case itu. ‘Make It Real’, dan Publishernya pun aneh, tak pernah didengar sama sekali oleh Hamna, Payung Corp.
Hamna meletakkan CD-Case itu dimeja didekatnya, dan mulai berbaur dengan gamers lain yang sedang memperhatikan Game ‘The Viruses’ yg dimainkan oleh Ihsan.
Sepertinya itu adalah Game Shooter, Seperti game Resident Evil yang membunuh mayat hidup yang terkena virus. Karena sudah melihat game itu, Gamers lain segera kembali ke PC masing-masing.
Hamna pun pulang karena ia sadar karena ia lupa membawa uang (-_- ckck)

Keesokkan harinya, Hamna datang lagi ke Net itu, dan menemui Ihsan dengan mata yang melotot merah, dan baju yang sama dikenakannya kemaren. Sepertinya ia tidak pulang-pulang.
Hamna pun mulai menyalakan PC disebelah Ihsan, Wajah Ihsan tampak horor, Hamna merasa bergidik, tapi bagaimana? PC yg selalu digunakannya tepat disebelah Ihsan. Ia segera mengeserkan PC dan kursinya menjauhi Ihsan sedikit, dan memberi senyum ke Ihsan, walau Ihsan sama sekali tidak menyahutnya. Keadaan Ihsan tidak seperti biasanya, Ia mengeluarkan Nafas terengah-engah dan tidak beraturan. Tiba-tiba ia berteriak “AAAARGGHH!!”, dan kemudian pingsan. Hamna yang berada disampingnya merasa panik dan ketakutan, dan segera beranjak dari tempat duduknya, dengan iler saking terkejutnya.
Ihsan terbangun, dan berjalan teroleng-oleng menuju operator.
“Om, i.. is.. isikk.. isikann.. bill..billiing sayaa..”, Suaranya pun aneh, berbicara sambil diselingi desahan sakit.
Operator yang prihatin dengan keadaannya tidak mengiyakan apa kata ihsan, dan menyuruhnya untuk pulang. Namun Ihsan bersikeras.
Ihsan Marah dan tiba-tiba menggigit leher sang operator. Keadaan di Net itupun kemudian panik, si Operator Kesakitan dan kemudian tak sadarkan diri tergeletak dilantai. Ihsan berdiri dengan mulut bersimbah darah, berbicara aneh.. “hhhh..hhh.aarrgghhh..”. Hamna dan Gamers lainnya panik, ini seperti didalam Game, namun nyata. Mereka segera berlari kebelakang, merapat satu sama lain.
Si Operator tiba-tiba terbangun dengan darah disekujur tubuhnya, hampir sama seperti Ihsan, dia berjalan terpuyeng-puyeng. Salah satu Gamers, perempuan berteriak melihat kejadian itu.
Ihsan dan Si Operator kemudian berlari dengan oleng kearah kerumunan Gamers yang sedang ketakutan dengan kejadian itu. Net itu sebuah ruko, dan ada pintu dibelakang untuk akses menuju ke atas. Hamna segera menyuruh Gamers lain untuk menuju keatas, Ia ditemani Dody dan Dayat mencegah Ihsan dan Operator menghampiri mereka dengan Menaboknya dengan CPU yang ada.
(Sorry dah kalo ceritanya bahasanya campur, Billingual yee).
Ihsan dan si Operator tergeletak, namun mereka masih bisa bergerak. Hamna, Dody dan Dayat segera menyusul para gamers yang sudah duluan menuju keatas. Mereka membuat Blokade agar Pintu menuju keatas tidak bisa dibuka oleh Ihsan dan Operator.
“Buat blokade untuk semua jalan masuk, termasuk jendela dan pintu!” , Teriak Hamna.
Bergegas lah para Gamers lain membuat blokade itu.

Satu jam kemudian, Hamna dan para gamers duduk lesu disebuah ruangan.
“Kenapa ini bisa terjadi?”, Ucap salah seorang Gamer.
“Yaa.. Kenapaaa? Ada yang mempunyai Alasaann??”, Ucap yang lain lagi, sehingga membuat keributan diantara kerumunan itu.
“Ada apa dengan Ihsan?! Ada Apa dengan Operator?!”
“Ada apa dengan Cinta?!”
“ssstt, ga ada yang namanya cinta”
“Semuanyaa, Bisa Diam? Mereka bukanlah Ihsan dan Operator yang kita kenal lagi, mereka telah mati. Dan itu? Bukan Lah manusia”, Ucap Hamna menenangkan para Gamers.
“Tapi bagaimana Nasib Kita? Apa yang kita bisa lakukan?!”,  Ucap seorang Gamers lagi.
“Yaa, Bagaimana?”, Sahut seluruh Gamers.
“Kita lakukan seperti di Game, Oke?”, Jawab Dody dan Dayat.
“Tapi itu di Game! Sekarang ini Dunia Nyata kawan! Apa yang kita bisa lakukan?! Kita sama sekali tidak mempunyai apa-apa untuk Melawan Mereka!”, Seru seorang Gamers.
“Ya, Tapi yang terkena virus ini kemungkinan hanya sedikit yang terkena, tergantunglah”, Jawab Hamna.
“Maksudmu?” Sahut Gamers yang bertanya tadi.
“Ya, Kita lihat saja, Yang menularkan virus itu adalah Ihsan, sedangkan, darimana Ihsan mendapat virus itu?”, Jawab Hamna.
“Benar juga, Darimana ya?”, Sahut Dayat.
Para Gamers yang awalnya panik sekarang terdiam memikirkan darimana virus itu berasal.
Hingga akhirnya Hamna memecah keheningan.
“Virus itu mungkin berasal dari game yang Ihsan Mainkan”
“Game Apa? Game yang aku mainkan sama seperti Ihsan, tapi kenapa aku tidak tertular?”, Jawab Dody.
“Bukan, tapi Game The Viruses, Kalian ingat? Baju yang Ihsan kenakan Kemarin? Sama dengan yang dipakainya hari ini, kemudian matanya merah dan kantung matanya besar, itu tandanya ia sama sekali tidak tidur dan pulang”, Jelas Hamna.
“Oiya, benar juga kau, Aku ingat. Tapi bagaimana caranya Virus itu menular ke Ihsan?”, Sahut Seorang Gamers.
“Mungkin Lewat Audio suara itu”, Sahut Hamna.
“Ah tidak mungkin, Bagaimana bisa Audio itu dapat membunuh? Aku sering mendengar Audio dengan volume paling nyaring, tapi masih hidup nih”, Jawab Gamers lain nyelutuk.
“Itu bikin Budeg Dodool”
“Bukan, Tapi lihat, Ada yang mengatakan kalau berhadapan dengan cahaya komputer selama 24 jam penuh bisa menyebabkan kematian?, Nah bukannya Ihsan Begitu lama didepan PC?”, sahut Hamna.
“Benar juga tuh”
“Jadi, Mungkin Game itu membuat pemainnya menjadi keranjingan, sehingga ingin main terus dan terus. Hingga Gamers mencapai Limit batas ia dapat bermain game sambil menularkan virus lewat Audio, kemudian meninggal dan akhirnya menjadi Zombie. Dan Gigitannya dapat menularkan virus itu lagi”, Jelas Hamna.
“Kemungkinan besar seperti itu, syukur lah mereka berdua telah disingikirkan”, Jawab Dayat.
“Kita tidak bisa senang dulu”, sahut Dody.
“Ya, Benar, tidak mungkin hanya diwarnet ini terserang, berapa banyak warnet yang ada di Kota ini?”, Jawab Hamna
“Gua pengen jawab itu, kenapa elu yang nyosor jawab sih Ham?”, Sahut Dody.
“Sudah, Tidak perlu dibesar-besarkan ya”, Sengir Hamna.
“Kampret”
“Jadi Maksud kalian? Virus Zombie ini masih tersebar diluar sana?”, sahut seorang gamers.
“Ya, Tergantung orang-orang yang bisa mencegah Zombie itu”, Jawab Hamna.
“Maksudnya?”
“Game itu, Publishernya aneh, aku tak pernah mendengar publisher itu, dan kemaren malam aku search di google, tidak ada sama sekali nama itu tercantum di Google”, Jawab Hamna.
“Memangnya apa?”
“Payung corporation” , sahut Hamna.
“Jangan-jangan itu adalah reinkarnasi dari Nenek Payung yang film horor itu loh”
“Itu GAYUNG, ini PAYUNG, Bedaa tot”.
Hamna kemudian berjalan meninggalkan kerumunan Gamers yang sedang panik, sebelumnya dia meminta Dody dan Dayat menenangkan mereka.
Si Operator itu seseorang yang aneh, namun orangnya kocak. Anehnya, setiap Bulan selalu datang paket besar, dan ia masukkan keruang atas. Namun sama sekali tak ada barang dilantai ini, hanya ada kamar, dapur, dan Kamar mandi. Hamna menuju ke dapur, dan mengecek bahan makanan yang bisa dimakan. Nampaknya Ada cukup, untuk tinggal disana. Tidak mungkin kan pulang kerumah dan tiba-tiba diserang Oleh Zombie?
Lalu ia menuju kekamar, Hanya ada Tempat tidur.
“Kamu Ngapain?”, Tanya seorang anak kecil tiba-tiba ikut masuk.
“Loh?, engga aku hanya melihat-lihat”, Sahut Hamna.
“Apa kamu ingin mencuri?”
“Hei, Tidak mungkin dengan keadaan seperti ini aku berniat mencuri. Siapa namamu?”
“Mengapa kamu ingin tahu?”, Anak kecil ini menyebalkan.
“Karena aku hanya ingin tahu” Jawab Hamna sambil senyum.
“Alex, dan aku adalah adik Chris.”, Sahutnya muram.
“Chris? Jadi Kau adik si Operator?”
“Ya, Benar. Dan aku melihat kau menabok kakakku dengan CPU”, Matanya mulai berlinangan air mata.
Anak itu membuat Hamna Terkejut, Mungkin ia masih belum mengerti apa yang terjadi dengan kakaknya. “Aku tidak membunuh kakakmu”
“Bohong!”
“Virus itu yang membunuh, aku hanya membunuh virus yang membunuh kakakmu, Kakakmu mungkin sedang berada ditempat yang tepat.” Hamna Menepuk pundak Alex.
Alex menangis, dan ia kemudian memeluk Hamna. Hamna membiarkan ia menangis hingga akhirnya ia tertidur. Hamna menidurkannya diranjang Chris, Kakaknya.
Hamna menengok keluar jendela.
Hampir tidak terlihat juga terdengar lagi suara keramaian diluar sana, Diluar nampak hampa, seolah-olah tak ada kehidupan.
Ia segera kembali ke ruang tengah, tempat dimana para Gamers lain berkumpul.  Semua wajahnya ketakutan, dan panik. Hamna menyuruh para Gamers agar segera beristirahat.
Malam itu Semuanya Masih menjadi misteri.

-To Be Continued-