SlideShow

0

The Net Evil


Adalah main Game Online, salah satu kegiatan rutin bagi Hamna disaat luang. Mungkin baginya Game Online itu adalah makanan pokok yang harus dipenuhi setiap harinya.
Baginya, Game Online adalah pelepas dari rasa galau yang selalu menghampirinya (kalo pas lgi putus sama pacar, sekarang engga punya yang baru sih :3).
Suatu hari, di warnet tempatnya biasa bermain. Seperti biasa teman temannya Gamers nya sudah duduk didepan PC masing-masing dengan Headphone besar menutupi telinganya.
Hamna kemudian berjalan menyusuri PC temannya sambil melihat apa yg mereka mainkan, dan seperti biasa seorang temannya bernama Ihsan memainkan Game Online kesukaannya dengan mata merahnya, (mungkin karena terlalu lama bermain) dia memang Maniak Game karena bermain Game 10 Jam perhari (waduh). Tak lama kemudian.
“YEESS!! Aku Berhasil Memenangkan Kompetisi Game ini!” Teriak Ihsan berteriak memecah kesunyian warnet.
Para Gamers lainnya segera memenuhi sisi-sisi PC dimana Ihsan bermain, Hamna pun ikut melihat karena dari tadi dia berada dibelakang Ihsan.
Tertulis, ‘Congratulations, You have Won This Competition Game, Your reward Will sent One Hour after you write your location’
Hamna Bingung melihat tulisan itu, Karena tidak mungkin sebuah Publisher Game memberi Hadiah langsung di Game, harusnya ada tempat khusus untuk bertemu. Tapi dia indahkan saja dan ikut memeriahkan kemenangan Ihsan. Ihsan yang dari tadi senang telah memenangkan kompetisi itu kemudian mulai menunggu hadiahnya datang.
Sejam berlalu, Seseorang yang misterius berjubah dan berkacamata hitam datang  membawa sebuah paket.
“Mana Yang bernama Ihsan?” Seru Orang misterius itu, Kemudian Ihsan mendekati dan menerima paketnya. Gamers lain yang ada didalam Net tersebut hanya melongo.
Lelaki itu pergi dan hilang diantara padatnya mobil diluar net.
Ihsan segera membuka Paket, dan isinya adalah Software Game terbaru, ‘The Viruses’. Saking maniaknya ia langsung memasukkan CD itu kedalam CD-ROM tanpa membaca CD-Case nya.
Hamna Memungut CD-Case itu dan membacanya.
“Aneh”, Gumam Hamna, CD-Case biasanya memuat larangan-larangan  tentang game itu, namun di CD-Case ini sama sekali tak ada Larangan apapun. Tapi ada suatu tulisan kecil dibawah CD-Case itu. ‘Make It Real’, dan Publishernya pun aneh, tak pernah didengar sama sekali oleh Hamna, Payung Corp.
Hamna meletakkan CD-Case itu dimeja didekatnya, dan mulai berbaur dengan gamers lain yang sedang memperhatikan Game ‘The Viruses’ yg dimainkan oleh Ihsan.
Sepertinya itu adalah Game Shooter, Seperti game Resident Evil yang membunuh mayat hidup yang terkena virus. Karena sudah melihat game itu, Gamers lain segera kembali ke PC masing-masing.
Hamna pun pulang karena ia sadar karena ia lupa membawa uang (-_- ckck)

Keesokkan harinya, Hamna datang lagi ke Net itu, dan menemui Ihsan dengan mata yang melotot merah, dan baju yang sama dikenakannya kemaren. Sepertinya ia tidak pulang-pulang.
Hamna pun mulai menyalakan PC disebelah Ihsan, Wajah Ihsan tampak horor, Hamna merasa bergidik, tapi bagaimana? PC yg selalu digunakannya tepat disebelah Ihsan. Ia segera mengeserkan PC dan kursinya menjauhi Ihsan sedikit, dan memberi senyum ke Ihsan, walau Ihsan sama sekali tidak menyahutnya. Keadaan Ihsan tidak seperti biasanya, Ia mengeluarkan Nafas terengah-engah dan tidak beraturan. Tiba-tiba ia berteriak “AAAARGGHH!!”, dan kemudian pingsan. Hamna yang berada disampingnya merasa panik dan ketakutan, dan segera beranjak dari tempat duduknya, dengan iler saking terkejutnya.
Ihsan terbangun, dan berjalan teroleng-oleng menuju operator.
“Om, i.. is.. isikk.. isikann.. bill..billiing sayaa..”, Suaranya pun aneh, berbicara sambil diselingi desahan sakit.
Operator yang prihatin dengan keadaannya tidak mengiyakan apa kata ihsan, dan menyuruhnya untuk pulang. Namun Ihsan bersikeras.
Ihsan Marah dan tiba-tiba menggigit leher sang operator. Keadaan di Net itupun kemudian panik, si Operator Kesakitan dan kemudian tak sadarkan diri tergeletak dilantai. Ihsan berdiri dengan mulut bersimbah darah, berbicara aneh.. “hhhh..hhh.aarrgghhh..”. Hamna dan Gamers lainnya panik, ini seperti didalam Game, namun nyata. Mereka segera berlari kebelakang, merapat satu sama lain.
Si Operator tiba-tiba terbangun dengan darah disekujur tubuhnya, hampir sama seperti Ihsan, dia berjalan terpuyeng-puyeng. Salah satu Gamers, perempuan berteriak melihat kejadian itu.
Ihsan dan Si Operator kemudian berlari dengan oleng kearah kerumunan Gamers yang sedang ketakutan dengan kejadian itu. Net itu sebuah ruko, dan ada pintu dibelakang untuk akses menuju ke atas. Hamna segera menyuruh Gamers lain untuk menuju keatas, Ia ditemani Dody dan Dayat mencegah Ihsan dan Operator menghampiri mereka dengan Menaboknya dengan CPU yang ada.
(Sorry dah kalo ceritanya bahasanya campur, Billingual yee).
Ihsan dan si Operator tergeletak, namun mereka masih bisa bergerak. Hamna, Dody dan Dayat segera menyusul para gamers yang sudah duluan menuju keatas. Mereka membuat Blokade agar Pintu menuju keatas tidak bisa dibuka oleh Ihsan dan Operator.
“Buat blokade untuk semua jalan masuk, termasuk jendela dan pintu!” , Teriak Hamna.
Bergegas lah para Gamers lain membuat blokade itu.

Satu jam kemudian, Hamna dan para gamers duduk lesu disebuah ruangan.
“Kenapa ini bisa terjadi?”, Ucap salah seorang Gamer.
“Yaa.. Kenapaaa? Ada yang mempunyai Alasaann??”, Ucap yang lain lagi, sehingga membuat keributan diantara kerumunan itu.
“Ada apa dengan Ihsan?! Ada Apa dengan Operator?!”
“Ada apa dengan Cinta?!”
“ssstt, ga ada yang namanya cinta”
“Semuanyaa, Bisa Diam? Mereka bukanlah Ihsan dan Operator yang kita kenal lagi, mereka telah mati. Dan itu? Bukan Lah manusia”, Ucap Hamna menenangkan para Gamers.
“Tapi bagaimana Nasib Kita? Apa yang kita bisa lakukan?!”,  Ucap seorang Gamers lagi.
“Yaa, Bagaimana?”, Sahut seluruh Gamers.
“Kita lakukan seperti di Game, Oke?”, Jawab Dody dan Dayat.
“Tapi itu di Game! Sekarang ini Dunia Nyata kawan! Apa yang kita bisa lakukan?! Kita sama sekali tidak mempunyai apa-apa untuk Melawan Mereka!”, Seru seorang Gamers.
“Ya, Tapi yang terkena virus ini kemungkinan hanya sedikit yang terkena, tergantunglah”, Jawab Hamna.
“Maksudmu?” Sahut Gamers yang bertanya tadi.
“Ya, Kita lihat saja, Yang menularkan virus itu adalah Ihsan, sedangkan, darimana Ihsan mendapat virus itu?”, Jawab Hamna.
“Benar juga, Darimana ya?”, Sahut Dayat.
Para Gamers yang awalnya panik sekarang terdiam memikirkan darimana virus itu berasal.
Hingga akhirnya Hamna memecah keheningan.
“Virus itu mungkin berasal dari game yang Ihsan Mainkan”
“Game Apa? Game yang aku mainkan sama seperti Ihsan, tapi kenapa aku tidak tertular?”, Jawab Dody.
“Bukan, tapi Game The Viruses, Kalian ingat? Baju yang Ihsan kenakan Kemarin? Sama dengan yang dipakainya hari ini, kemudian matanya merah dan kantung matanya besar, itu tandanya ia sama sekali tidak tidur dan pulang”, Jelas Hamna.
“Oiya, benar juga kau, Aku ingat. Tapi bagaimana caranya Virus itu menular ke Ihsan?”, Sahut Seorang Gamers.
“Mungkin Lewat Audio suara itu”, Sahut Hamna.
“Ah tidak mungkin, Bagaimana bisa Audio itu dapat membunuh? Aku sering mendengar Audio dengan volume paling nyaring, tapi masih hidup nih”, Jawab Gamers lain nyelutuk.
“Itu bikin Budeg Dodool”
“Bukan, Tapi lihat, Ada yang mengatakan kalau berhadapan dengan cahaya komputer selama 24 jam penuh bisa menyebabkan kematian?, Nah bukannya Ihsan Begitu lama didepan PC?”, sahut Hamna.
“Benar juga tuh”
“Jadi, Mungkin Game itu membuat pemainnya menjadi keranjingan, sehingga ingin main terus dan terus. Hingga Gamers mencapai Limit batas ia dapat bermain game sambil menularkan virus lewat Audio, kemudian meninggal dan akhirnya menjadi Zombie. Dan Gigitannya dapat menularkan virus itu lagi”, Jelas Hamna.
“Kemungkinan besar seperti itu, syukur lah mereka berdua telah disingikirkan”, Jawab Dayat.
“Kita tidak bisa senang dulu”, sahut Dody.
“Ya, Benar, tidak mungkin hanya diwarnet ini terserang, berapa banyak warnet yang ada di Kota ini?”, Jawab Hamna
“Gua pengen jawab itu, kenapa elu yang nyosor jawab sih Ham?”, Sahut Dody.
“Sudah, Tidak perlu dibesar-besarkan ya”, Sengir Hamna.
“Kampret”
“Jadi Maksud kalian? Virus Zombie ini masih tersebar diluar sana?”, sahut seorang gamers.
“Ya, Tergantung orang-orang yang bisa mencegah Zombie itu”, Jawab Hamna.
“Maksudnya?”
“Game itu, Publishernya aneh, aku tak pernah mendengar publisher itu, dan kemaren malam aku search di google, tidak ada sama sekali nama itu tercantum di Google”, Jawab Hamna.
“Memangnya apa?”
“Payung corporation” , sahut Hamna.
“Jangan-jangan itu adalah reinkarnasi dari Nenek Payung yang film horor itu loh”
“Itu GAYUNG, ini PAYUNG, Bedaa tot”.
Hamna kemudian berjalan meninggalkan kerumunan Gamers yang sedang panik, sebelumnya dia meminta Dody dan Dayat menenangkan mereka.
Si Operator itu seseorang yang aneh, namun orangnya kocak. Anehnya, setiap Bulan selalu datang paket besar, dan ia masukkan keruang atas. Namun sama sekali tak ada barang dilantai ini, hanya ada kamar, dapur, dan Kamar mandi. Hamna menuju ke dapur, dan mengecek bahan makanan yang bisa dimakan. Nampaknya Ada cukup, untuk tinggal disana. Tidak mungkin kan pulang kerumah dan tiba-tiba diserang Oleh Zombie?
Lalu ia menuju kekamar, Hanya ada Tempat tidur.
“Kamu Ngapain?”, Tanya seorang anak kecil tiba-tiba ikut masuk.
“Loh?, engga aku hanya melihat-lihat”, Sahut Hamna.
“Apa kamu ingin mencuri?”
“Hei, Tidak mungkin dengan keadaan seperti ini aku berniat mencuri. Siapa namamu?”
“Mengapa kamu ingin tahu?”, Anak kecil ini menyebalkan.
“Karena aku hanya ingin tahu” Jawab Hamna sambil senyum.
“Alex, dan aku adalah adik Chris.”, Sahutnya muram.
“Chris? Jadi Kau adik si Operator?”
“Ya, Benar. Dan aku melihat kau menabok kakakku dengan CPU”, Matanya mulai berlinangan air mata.
Anak itu membuat Hamna Terkejut, Mungkin ia masih belum mengerti apa yang terjadi dengan kakaknya. “Aku tidak membunuh kakakmu”
“Bohong!”
“Virus itu yang membunuh, aku hanya membunuh virus yang membunuh kakakmu, Kakakmu mungkin sedang berada ditempat yang tepat.” Hamna Menepuk pundak Alex.
Alex menangis, dan ia kemudian memeluk Hamna. Hamna membiarkan ia menangis hingga akhirnya ia tertidur. Hamna menidurkannya diranjang Chris, Kakaknya.
Hamna menengok keluar jendela.
Hampir tidak terlihat juga terdengar lagi suara keramaian diluar sana, Diluar nampak hampa, seolah-olah tak ada kehidupan.
Ia segera kembali ke ruang tengah, tempat dimana para Gamers lain berkumpul.  Semua wajahnya ketakutan, dan panik. Hamna menyuruh para Gamers agar segera beristirahat.
Malam itu Semuanya Masih menjadi misteri.

-To Be Continued-

0 komentar:

Posting Komentar