Adalah main
Game Online, salah satu kegiatan rutin bagi Hamna disaat luang. Mungkin baginya
Game Online itu adalah makanan pokok yang harus dipenuhi setiap harinya.
Baginya,
Game Online adalah pelepas dari rasa galau yang selalu menghampirinya (kalo pas
lgi putus sama pacar, sekarang engga punya yang baru sih :3).
Suatu hari,
di warnet tempatnya biasa bermain. Seperti biasa teman temannya Gamers nya
sudah duduk didepan PC masing-masing dengan Headphone besar menutupi
telinganya.
Hamna
kemudian berjalan menyusuri PC temannya sambil melihat apa yg mereka mainkan,
dan seperti biasa seorang temannya bernama Ihsan memainkan Game Online
kesukaannya dengan mata merahnya, (mungkin karena terlalu lama bermain) dia
memang Maniak Game karena bermain Game 10 Jam perhari (waduh). Tak lama
kemudian.
“YEESS!! Aku
Berhasil Memenangkan Kompetisi Game ini!” Teriak Ihsan berteriak memecah
kesunyian warnet.
Para Gamers
lainnya segera memenuhi sisi-sisi PC dimana Ihsan bermain, Hamna pun ikut
melihat karena dari tadi dia berada dibelakang Ihsan.
Tertulis,
‘Congratulations, You have Won This Competition Game, Your reward Will sent One
Hour after you write your location’
Hamna
Bingung melihat tulisan itu, Karena tidak mungkin sebuah Publisher Game memberi
Hadiah langsung di Game, harusnya ada tempat khusus untuk bertemu. Tapi dia
indahkan saja dan ikut memeriahkan kemenangan Ihsan. Ihsan yang dari tadi
senang telah memenangkan kompetisi itu kemudian mulai menunggu hadiahnya
datang.
Sejam
berlalu, Seseorang yang misterius berjubah dan berkacamata hitam datang membawa sebuah paket.
“Mana Yang
bernama Ihsan?” Seru Orang misterius itu, Kemudian Ihsan mendekati dan menerima
paketnya. Gamers lain yang ada didalam Net tersebut hanya melongo.
Lelaki itu
pergi dan hilang diantara padatnya mobil diluar net.
Ihsan segera
membuka Paket, dan isinya adalah Software Game terbaru, ‘The Viruses’. Saking
maniaknya ia langsung memasukkan CD itu kedalam CD-ROM tanpa membaca CD-Case
nya.
Hamna
Memungut CD-Case itu dan membacanya.
“Aneh”,
Gumam Hamna, CD-Case biasanya memuat larangan-larangan tentang game itu, namun di CD-Case ini sama
sekali tak ada Larangan apapun. Tapi ada suatu tulisan kecil dibawah CD-Case
itu. ‘Make It Real’, dan Publishernya pun aneh, tak pernah didengar sama sekali
oleh Hamna, Payung Corp.
Hamna
meletakkan CD-Case itu dimeja didekatnya, dan mulai berbaur dengan gamers lain
yang sedang memperhatikan Game ‘The Viruses’ yg dimainkan oleh Ihsan.
Sepertinya
itu adalah Game Shooter, Seperti game Resident Evil yang membunuh mayat hidup
yang terkena virus. Karena sudah melihat game itu, Gamers lain segera kembali
ke PC masing-masing.
Hamna pun
pulang karena ia sadar karena ia lupa membawa uang (-_- ckck)
Keesokkan
harinya, Hamna datang lagi ke Net itu, dan menemui Ihsan dengan mata yang
melotot merah, dan baju yang sama dikenakannya kemaren. Sepertinya ia tidak
pulang-pulang.
Hamna pun
mulai menyalakan PC disebelah Ihsan, Wajah Ihsan tampak horor, Hamna merasa
bergidik, tapi bagaimana? PC yg selalu digunakannya tepat disebelah Ihsan. Ia segera
mengeserkan PC dan kursinya menjauhi Ihsan sedikit, dan memberi senyum ke
Ihsan, walau Ihsan sama sekali tidak menyahutnya. Keadaan Ihsan tidak seperti
biasanya, Ia mengeluarkan Nafas terengah-engah dan tidak beraturan. Tiba-tiba
ia berteriak “AAAARGGHH!!”, dan kemudian pingsan. Hamna yang berada
disampingnya merasa panik dan ketakutan, dan segera beranjak dari tempat
duduknya, dengan iler saking terkejutnya.
Ihsan
terbangun, dan berjalan teroleng-oleng menuju operator.
“Om, i..
is.. isikk.. isikann.. bill..billiing sayaa..”, Suaranya pun aneh, berbicara
sambil diselingi desahan sakit.
Operator
yang prihatin dengan keadaannya tidak mengiyakan apa kata ihsan, dan
menyuruhnya untuk pulang. Namun Ihsan bersikeras.
Ihsan Marah
dan tiba-tiba menggigit leher sang operator. Keadaan di Net itupun kemudian
panik, si Operator Kesakitan dan kemudian tak sadarkan diri tergeletak
dilantai. Ihsan berdiri dengan mulut bersimbah darah, berbicara aneh..
“hhhh..hhh.aarrgghhh..”. Hamna dan Gamers lainnya panik, ini seperti didalam
Game, namun nyata. Mereka segera berlari kebelakang, merapat satu sama lain.
Si Operator
tiba-tiba terbangun dengan darah disekujur tubuhnya, hampir sama seperti Ihsan,
dia berjalan terpuyeng-puyeng. Salah satu Gamers, perempuan berteriak melihat
kejadian itu.
Ihsan dan Si
Operator kemudian berlari dengan oleng kearah kerumunan Gamers yang sedang
ketakutan dengan kejadian itu. Net itu sebuah ruko, dan ada pintu dibelakang
untuk akses menuju ke atas. Hamna segera menyuruh Gamers lain untuk menuju keatas,
Ia ditemani Dody dan Dayat mencegah Ihsan dan Operator menghampiri mereka
dengan Menaboknya dengan CPU yang ada.
(Sorry dah
kalo ceritanya bahasanya campur, Billingual yee).
Ihsan dan si
Operator tergeletak, namun mereka masih bisa bergerak. Hamna, Dody dan Dayat
segera menyusul para gamers yang sudah duluan menuju keatas. Mereka membuat
Blokade agar Pintu menuju keatas tidak bisa dibuka oleh Ihsan dan Operator.
“Buat
blokade untuk semua jalan masuk, termasuk jendela dan pintu!” , Teriak Hamna.
Bergegas lah
para Gamers lain membuat blokade itu.
Satu jam
kemudian, Hamna dan para gamers duduk lesu disebuah ruangan.
“Kenapa ini
bisa terjadi?”, Ucap salah seorang Gamer.
“Yaa..
Kenapaaa? Ada yang mempunyai Alasaann??”, Ucap yang lain lagi, sehingga membuat
keributan diantara kerumunan itu.
“Ada apa
dengan Ihsan?! Ada Apa dengan Operator?!”
“Ada apa
dengan Cinta?!”
“ssstt, ga
ada yang namanya cinta”
“Semuanyaa,
Bisa Diam? Mereka bukanlah Ihsan dan Operator yang kita kenal lagi, mereka
telah mati. Dan itu? Bukan Lah manusia”, Ucap Hamna menenangkan para Gamers.
“Tapi
bagaimana Nasib Kita? Apa yang kita bisa lakukan?!”, Ucap seorang Gamers lagi.
“Yaa,
Bagaimana?”, Sahut seluruh Gamers.
“Kita
lakukan seperti di Game, Oke?”, Jawab Dody dan Dayat.
“Tapi itu di
Game! Sekarang ini Dunia Nyata kawan! Apa yang kita bisa lakukan?! Kita sama
sekali tidak mempunyai apa-apa untuk Melawan Mereka!”, Seru seorang Gamers.
“Ya, Tapi
yang terkena virus ini kemungkinan hanya sedikit yang terkena, tergantunglah”,
Jawab Hamna.
“Maksudmu?”
Sahut Gamers yang bertanya tadi.
“Ya, Kita
lihat saja, Yang menularkan virus itu adalah Ihsan, sedangkan, darimana Ihsan
mendapat virus itu?”, Jawab Hamna.
“Benar juga,
Darimana ya?”, Sahut Dayat.
Para Gamers
yang awalnya panik sekarang terdiam memikirkan darimana virus itu berasal.
Hingga
akhirnya Hamna memecah keheningan.
“Virus itu
mungkin berasal dari game yang Ihsan Mainkan”
“Game Apa?
Game yang aku mainkan sama seperti Ihsan, tapi kenapa aku tidak tertular?”,
Jawab Dody.
“Bukan, tapi
Game The Viruses, Kalian ingat? Baju yang Ihsan kenakan Kemarin? Sama dengan
yang dipakainya hari ini, kemudian matanya merah dan kantung matanya besar, itu
tandanya ia sama sekali tidak tidur dan pulang”, Jelas Hamna.
“Oiya, benar
juga kau, Aku ingat. Tapi bagaimana caranya Virus itu menular ke Ihsan?”, Sahut
Seorang Gamers.
“Mungkin
Lewat Audio suara itu”, Sahut Hamna.
“Ah tidak
mungkin, Bagaimana bisa Audio itu dapat membunuh? Aku sering mendengar Audio
dengan volume paling nyaring, tapi masih hidup nih”, Jawab Gamers lain
nyelutuk.
“Itu bikin
Budeg Dodool”
“Bukan, Tapi
lihat, Ada yang mengatakan kalau berhadapan dengan cahaya komputer selama 24
jam penuh bisa menyebabkan kematian?, Nah bukannya Ihsan Begitu lama didepan
PC?”, sahut Hamna.
“Benar juga
tuh”
“Jadi,
Mungkin Game itu membuat pemainnya menjadi keranjingan, sehingga ingin main
terus dan terus. Hingga Gamers mencapai Limit batas ia dapat bermain game
sambil menularkan virus lewat Audio, kemudian meninggal dan akhirnya menjadi
Zombie. Dan Gigitannya dapat menularkan virus itu lagi”, Jelas Hamna.
“Kemungkinan
besar seperti itu, syukur lah mereka berdua telah disingikirkan”, Jawab Dayat.
“Kita tidak
bisa senang dulu”, sahut Dody.
“Ya, Benar,
tidak mungkin hanya diwarnet ini terserang, berapa banyak warnet yang ada di
Kota ini?”, Jawab Hamna
“Gua pengen
jawab itu, kenapa elu yang nyosor jawab sih Ham?”, Sahut Dody.
“Sudah,
Tidak perlu dibesar-besarkan ya”, Sengir Hamna.
“Kampret”
“Jadi Maksud
kalian? Virus Zombie ini masih tersebar diluar sana?”, sahut seorang gamers.
“Ya,
Tergantung orang-orang yang bisa mencegah Zombie itu”, Jawab Hamna.
“Maksudnya?”
“Game itu,
Publishernya aneh, aku tak pernah mendengar publisher itu, dan kemaren malam
aku search di google, tidak ada sama sekali nama itu tercantum di Google”,
Jawab Hamna.
“Memangnya
apa?”
“Payung
corporation” , sahut Hamna.
“Jangan-jangan
itu adalah reinkarnasi dari Nenek Payung yang film horor itu loh”
“Itu GAYUNG,
ini PAYUNG, Bedaa tot”.
Hamna
kemudian berjalan meninggalkan kerumunan Gamers yang sedang panik, sebelumnya
dia meminta Dody dan Dayat menenangkan mereka.
Si Operator
itu seseorang yang aneh, namun orangnya kocak. Anehnya, setiap Bulan selalu
datang paket besar, dan ia masukkan keruang atas. Namun sama sekali tak ada
barang dilantai ini, hanya ada kamar, dapur, dan Kamar mandi. Hamna menuju ke
dapur, dan mengecek bahan makanan yang bisa dimakan. Nampaknya Ada cukup, untuk
tinggal disana. Tidak mungkin kan pulang kerumah dan tiba-tiba diserang Oleh
Zombie?
Lalu ia
menuju kekamar, Hanya ada Tempat tidur.
“Kamu
Ngapain?”, Tanya seorang anak kecil tiba-tiba ikut masuk.
“Loh?, engga
aku hanya melihat-lihat”, Sahut Hamna.
“Apa kamu
ingin mencuri?”
“Hei, Tidak
mungkin dengan keadaan seperti ini aku berniat mencuri. Siapa namamu?”
“Mengapa
kamu ingin tahu?”, Anak kecil ini menyebalkan.
“Karena aku
hanya ingin tahu” Jawab Hamna sambil senyum.
“Alex, dan
aku adalah adik Chris.”, Sahutnya muram.
“Chris? Jadi
Kau adik si Operator?”
“Ya, Benar.
Dan aku melihat kau menabok kakakku dengan CPU”, Matanya mulai berlinangan air
mata.
Anak itu
membuat Hamna Terkejut, Mungkin ia masih belum mengerti apa yang terjadi dengan
kakaknya. “Aku tidak membunuh kakakmu”
“Bohong!”
“Virus itu
yang membunuh, aku hanya membunuh virus yang membunuh kakakmu, Kakakmu mungkin
sedang berada ditempat yang tepat.” Hamna Menepuk pundak Alex.
Alex
menangis, dan ia kemudian memeluk Hamna. Hamna membiarkan ia menangis hingga
akhirnya ia tertidur. Hamna menidurkannya diranjang Chris, Kakaknya.
Hamna
menengok keluar jendela.
Hampir tidak
terlihat juga terdengar lagi suara keramaian diluar sana, Diluar nampak hampa,
seolah-olah tak ada kehidupan.
Ia segera
kembali ke ruang tengah, tempat dimana para Gamers lain berkumpul. Semua wajahnya ketakutan, dan panik. Hamna
menyuruh para Gamers agar segera beristirahat.
Malam itu Semuanya
Masih menjadi misteri.
-To Be
Continued-

0 komentar:
Posting Komentar