Pagi hari ..
Mereka dikejutkan dengan serangan zombie yang mengamuk diluar pagar, Para zombie itu mencoba menerobos pagar itu.
Para Gamers terbangun dan mulai panik dengan keadaan itu.
“Jangan panik kawan, santai”, Ucap Hamna. “Apa tidak ada jalan lain untuk keluar dari rumah ini?”
“Ada, Lewat belakang”, Dwita segera berlari menuju pintu belakang, tapi ia menemukan pintu belakang yang hampir diterobos oleh zombie. “Gawat!, Mereka mencoba masuk lewat belakang juga!”, teriaknya.
Hamna yang sedang diruang tengah segera berteriak. “Oke, semuanyaa bagi menjadi 4 tim. 1 tim 5 orang. Tim pertama jaga didepan pintu, tim kedua kebelakang bikin blokade agar zombie tidak dapat masuk, dan tim yang lain bantu. Cegah para Zombie itu supaya tidak menyentuh ruangan ini!”
“Apa tidak ada jalan lain?”, tanya dayat. Dwita datang dengan wajah panik. “Aku tak tau”.
“Apa ada kendaraan yang bisa dipakai?”, tanya Hamna.
“Ya, 1 bus kecil dan mobil jeep, didalam garasi”, sahutnya. “Lewat sana” menunjuk kearah pintu samping.
“Dayat, Dodi, suruh tim ke3 agar membantu memasukkan tas senjata dan perbekalan kedalam bis, dan suruh mereka mengevakuasikan diri kedalam bis”
“Baik”.
Mereka semua bekerja cepat, namun zombie itu tetap saja berusaha menerobos masuk.
Semuanya telah siap didalam mobil dan bus, tinggal menunggu mereka memasuki bus itu.
Tetapi zombie yang menerobos lewat belakang terlalu kuat, hingga akhirnya mereka berhasil menerobos dan menggigit Tim2 yang ada disana. “Tolongg!!!”
Tim lain datang, untuk membantu tim2, namun mereka terlambat. Tim2 hampir semua tergigit oleh zombie, dan itu tandanya mereka akan turut menjadi Zombie.
“Semuanya, Cepat masuk kedalam bus! Cepat!”, Teriak Hamna.
“Tapi, bagaimana mereka?” Sahut Dayat.
“Mereka telah tergigit, dan otomatis mereka akan menjadi Zombie!”
“Tapi mereka juga bagian dari kita!”, Dayat berkeras.
“Mau jadi pahlawan? Sekarang bukan saatnya, ini bukan misi kemanusiaan, ini misi menyelamatkan diri!”
“Apa yang dikatakan Hamna ada benarnya yat, sudah “, Dody melerai.
Tim 1,3, dan 4 segera memasuki bus, dan Hamna, Dayat, Dody serta Dwita naik Jeep karena bus tak mungkin cukup untuk mereka semua.
“Dor”, Hamna menembakkan pistol ke gembok yang mengunci pagar, Pagar terbuka dan pasukan zombie segera berlari menuju mobil dan bus yang mereka tumpangi.
“Gas saja, tabrak saja mereka!”, Teriak Hamna.
Bus dan Jeep melaju menabrak beberapa zombie yang menghadang mereka, keluar dari rumah itu banyak zombie yang berkeliaran mengikuti mereka.
Ditengah perjalanan.
“Mereka itu bagian dari kita juga ham”, Dayat masih agak sedikit kesal.
“Tapi mereka sudah terinfeksi, bahaya kalau kita membawa mereka, kita tidak tahu kapan mereka akan jadi zombie”, Hamna tak mau kalah “Akan membahayakan yang lain kalau kita membawa mereka”
“Apa yang dikatakan hamna itu benar, tidak mungkin kita membawa penyakit didalam bus itu”, Sahut Dwita.
Dody hanya tertidur, mungkin karena panik semua terjadi. Suasana itu menjadi tenang disaat perjalanan walau masih ada pertentangan diantara mereka.
“Sssssss...” Bunyi Handy talkie mobil Jeep bersuara. Hamna segera mengambil “Ya ada apa?”
“Ssssss.. Persediaan bensin kita menipis, Mungkin kita harus berhenti diPom bensin terdekat..Ssss.sssss”
“Sssssss.. Baik, kita akan cari”
Mereka akhirnya menemukan sebuah Pom Bensin yang mempunyai minimarket, sepi, ya karena tak ada yang selamat disini mungkin.
“Oke, semuanya berpencar. Ambil barang yg berguna untuk perjalanan”, Perintah Hamna.
Mereka semua berpencar, dan tentu saja membawa senjata. Kalo-kalo ada serangan tiba-tiba.
Dody mencoba mengisi Tangki-tangki bus dan jeep, “Kita ga mungkin bisa bertahan kalo cuman mengandalkan persediaan ini”
“Ya jelas, kita harus bisa mencari cara agar bertahan hidup”, jawab Hamna.
Tak lama kemudian..
*DOR!!*
Bunyi tembakan terdengar dari dalam.
“Ssssss... Tolong, ada zombie banci didalam.. Sssss... Aaarrgghhhh”
“Bantuan-bantuan..Ssssssss”
Para Zombie kemudian keluar dari minimarket, karena Zombie banci, mereka mengenakan Beha dan high heels. (Bisa dibayangin sendiri yah.. Hiiiiii)
Hamna dkk, menembaki para Zombie banci itu. (Dengan jijik mungkin, ah gue ga habis mikir ada emang zombie banci? Siapa yang bikin cerita ini?! *plak)
Dan entah kenapa saat Zombie itu ditembaki, mereka mengganas.. yang awalnya bersuara “Aaaaw cyiin aargghhh” sekarang menjadi “WOY ARGGHHHHH HUARGHHHHH”. (Bentar, kok malah bukan zombie ya, malah kayak preman pasar -_-)
Beberapa Zombie itu gugur, dan untungnya hanya sedikit populasi Zombie yang menyerang.
Tidak ada yang terkena infeksi, tapi mungkin hanya memar karena kena amukan zombie tadi.
“Ham, lebih baik kita secepatnya pergi dari sini”, Kata Dayat.
“Bener, soalnya kita menembak, dan bunyi tembakan itu bisa terdengar hingga bermeter-meter dari sini. Ya kemungkinan Zombie-zombie lain mendengar bunyi itu, dan mengejar kita”, Jawab Dwita.
“Segera kumpulkan mereka, kita akan berangkat”, Hamna
Dari kejauhan terlihat beberapa ‘makhluk’ berlarian. Dody, Dayat dan yang lainnya bersiap untuk menembak.
“Tunggu dulu, Tahan tembakan”, kata Hamna.
“Tapi..”, Dayat ternganga setelah melihat ‘makhluk’ yang berlarian tadi
“Ooooooyy!! Tungguin akika cyiinn, akika takuuutt nih mas zombie pada buas semuaa, ih Cuchok deh yaaa!”
“Iyaaa, Selamatin kita dong nih cyiinn, Atuut”. Ternyata para Banci lain yang tidak terkena infeksi.
“Iyaa, ayoo Cemungudh Eaaa lari yang cepatt!”, Hamna nyahut.
“Eh, Sejak kapan lo bisa bahasa bencong?”, tanya Dwita.
Hamna senyum. “Maaf, terbawa emosi” *emot malu*
Rombongan pun kembali berjalan, sambil dijalan, mereka semua memperkenalkan diri (Iya yang Banci, bukan Hamna. Hamna kan tokoh utama *asek)
“Nama Eke Susi, nama lengkapnya Susi Kemala Sari”, Kata salah satu banci yang ada.
Banci itu berjumlahkan 4 orang, ya mereka harus diselamatkan juga bukan? Kalo engga diselamatin, Banci didunia ini akan PUNAH! Siapa yang mau Banci Punah? Ih, sayang tau. (*istighfar)
“Nama aslinya?”, Celetuk Dayat.
“Susmanto”, Jawabnya Dengan kasar, mirip preman pasar.
“Nama akika , Afika. Nama lengkapnya, Afikaahahapaadayangbarulohapaoreorasaorange”
“Buset, Nama apa iklan tuh?”
“Bisa disingkat kok, Afika Orange, Kan akika imut kaya Afika”, *monyongin Bibir*
*Semua yang ada di bis Muntah*
“Nama aslinya?”, Dayat lagi nyeletuk.
“Paijo Bin Paimin”
“DAPET NAMA AFIKA DARIMANAAAA?! KOK NAMAMU PAIJO NYASAR JADI AFIKA”
“Dari Iklan mas”, jawabnya Kalem.
*Dayat kunyah sendal*
“Nama eke yah cyin, Syahrini Eka Ningsih, emh Cuchok”
“Nama Asli?”, kali ini dody yang nanya.
“Sutarjo, mas”, jawabnya sambil senyum-senyum.
“Ga perlu pake senyum-senyum”, enyah Dody.
“YANG SENYUM SAMA ELO SIAPA?! EMANG MUKA GUE SENYUM TERUS DARI LAHIR”, Gusar Syahrini.
“Eh, ampun mas, eh om, eh mba, eh tante”, Dody ketakutan (Gila nih banci ya).
“Cukup panggil Eni ajah”, jawabnya tiba-tiba kalem. (Kayaknya nih Banci, kena Schizophrenia ya, apa mungkin semua banci yang selamat kena Schizophrenia semua? Wah gawat)
Yang terakhir, ini kayaknya perempuan asli, dari bentuk tubuhnya, dari wajahnya, dari rambutnya. Sumpah waw dan kayak perempuan.
Kali ini Dayat yang mulai bertanya.
“Nama kamu siapa?”, Tanya dayat pelan.
“GUE ADIT!”, Suaranya serak kayak Preman keselek biji pisang.
“Nama aslinya?”
“ANDITA RAHMAWANGI!, DAN GUE CEWEK!”, Ucap Adit.
“Trus ngapain ikut-ikutan nih neng-neng banci”, tanya Dayat.
“Ga tau, cuman nyasar, abis keselek buah pisang”
*Dayat ngunyah Jok Mobil*
Perjalanan ini membingungkan, apa yang akan terjadi pada mereka?
Dan apa kelanjutannya setelah para banci-banci itu bergabung. Apa mungkin nanti ada Zombie Preman pasar?
Atau mungkin nanti ada Zombie homoan..
Atau mungkin nanti ada Zombie homoan..
Masih misteri, dan doakan cerita ini berlanjur *amin*
-To Be Continued-

0 komentar:
Posting Komentar