SlideShow

0

The Net Evil Part 5



“Aku ingin kau menyelamatkanku, tolong aku Alex” Chris menangis
“Aku hanya anak kecil, apa yang bisa kulakukan untuk menolongmu” Alex menjawab.
“Ada sesuatu dari tubuhmu, kekuatan”
“Maksudmu?”
“Aku, memasukkan sebuah sampel hasil karyaku kedalam tubuhmu, sampel yang hampir sama dengan makhluk-makhluk yang berkeliaran diluar sana”
“Apa?! Kau jahat Chris, menjadikan aku sebagai kelinci percobaan?”
“Bukan, kau berbeda Al. Kau memiliki pertahanan tubuh yang sempurna, dan kau tak akan pernah sakit”
“Tetap saja kau jahat membuat aku sebagai kelinci percobaan”
“Al, waktu ku tak banyak. Kau harus cepat menyelamatkanku”
“Chris, bagaimana? Aku sendiri pun melihat jasad tubuhmu didalam Net kita”
“Itu hanya Kloningku, Kau harus menolongku, secepat mungkin.. Kalau tidak.. AAAAARRGGHHHH”, Chris diseret oleh seorang Zombie raksasa masuk ke sebuah ruangan.
“Chriiisss!!! Tidaaakkk”. Terasa seperti ada yg mencengkramnya dari belakang.

“Hey nak, Bangun”, Hamna menggetarkan badan Alex.
Alex terbangun dan ternganga, ia masih didalam mobil ternyata.
“Disepanjang jalan kau hanya tidur saja, apa kau kelelahan?”, tanya Dayat.
Alex menggeleng, ia pun melihat keluar jendela, dan nampak tempat kerja kakaknya yang tinggi hingga mencakar langit.
“Apa itu hanya mimpi, Chris datang padaku, dan meminta tolong? Apa itu mungkin.”, Gumamnya
*Clep* Dwita menempelkan tangannya ke dahi Alex.
“Apa kau sakit?”
Alex hanya diam dan menggeleng.
“tubuhmu keringatan, setidaknya kau istirahat”
Ia menggeleng lagi, tanpa sadar ia mengucapkan apa yg ia mimpikan tadi.
“Chris mendatangiku, ia bilang aku harus menyelamatkannya”, Ucapnya.
“APA?”, Kata Hamna dan Dayat serempak.
“Hei, Aku tahu bahwa aku yang membunuh kakakmu, maksudku, membunuh makhluk yang ada di kakakmu. Apa yang kau maksud? Sudah jelaskan kakakmu itu sudah tiada”, Ucap Hamna.
*Plak* Dwita menampar hamna.
“Apa kau bodoh? Sama saja kau menghancurkan harapannya!”
“Tidak, itu bukan chris, itu hanya Kloning”, Bantah Alex.
“Chris yang sebenarnya ada didalam sini, ia pun bekerja disini”
Hamna dan yang lain pun Hanya bingung.
Mereka segera menyiapkan senjata, sambil menunggu bis lainnya datang.

--

Rombongan lain datang, lengkap dengan persenjataan.
Entah apa yang akan terjadi saat mereka didalam, apa ini sebuah akhir? Atau sebuah awal dari perjalanan yang panjang.
Dimana Dunia manusia berubah menjadi neraka, Zombie dimana-mana, darah berceceran.
Memasuki Payung Corp. Adalah hal yang mudah, namun apa isi dan bagaimana cara keluar dari situ. Itu lah masalahnya.

Hamna dengan semua rombongan yang ada, (Iya, yang banci juga ikut, mereka gemeteran, tapi tetep aja masih berlaga banci) Membuka pintu masuk.
Lobby itu gelap, hanya ada penerangan dari lampu neon yang berkedip-kedip, nampak seperti sebuah kekacauan, Sama seperti keadaan diluar.
Darah tersebar dimana-mana, namun anehnya tak ada jasad ataupun Zombie yang ada disana.
“Oke, dari sini kita berpencar. Dwita, Alex dan Tim 1 ikut aku”, Ucap Hamna.
“Tim 2 ikuti Dayat”
“Dan Tim 3 serta bencong juga ikut gue, ya kan? Apes banget”, Dody nyahut.
“Sudah, jangan berlama-lama, kita mungkin tidak sendiri disini.”
“Iiiihh, Kita ikut mas ganteng cyiiin jeng, ah aseekkk”, ucap Susi sambil memeluk Dody.
*Dody mesti mandi pake kembang 7 rupa*
“Ingat, selalu nyalakan HT kalian, jangan pernah dimatikan. Dan yang terakhir, jangan sampai jauh dari kelompok”, Ucap Hamna.

Mereka semua berpencar, sejauh ini tidak ada Zombie yang terlihat, entah dimana Zombie itu berkeliaran, yang jelas, tempat yang mereka injak sekarang adalah.
Tempat dimana virus Zombie itu lahir.

“Apa kau tau dimana Ruangan Ayahmu?”, Tanya Hamna.
“Ya, di Basement bawah tanah, Sulit mencari tangga ke bawah jika tidak pakai lift”, Ucap Dwita
“Dan, Al. Darimana kau tahu bahwa kakakmu itu bekerja disini?”
Al hanya terdiam dan menjawab “Ia mendatangiku, lewat mimpi”
Hamna marah dan mencengkram bajunya “Jangan bercanda Al, Kita disini mempertaruhkan hidup dan mati!”
“Sudah, jangan seperti itu ham, dia kan anak kecil”, ucap Dayat
“Lepaskan aku!”, Alex menggertak. Hamna melepaskannya, dan mulai menjauh dari Alex.
“Dan jangan pernah panggil aku ‘Al’, hanya Chris yang boleh memanggilku itu!”
Hamna tersentak, ia tak dapat berkata apa-apa lagi.

Perjalanan dilanjutkan, Sejauh ini masih tidak terlihat Zombie, sampai akhirnya mereka menemui sebuah ruangan yang memiliki banyak pintu.
“Pintu mana nih yang kita masuki?”, Ucap Dwita
“Entah lah”
Sambil berjalan ketengah ruangan.
Tiba-tiba , “Awas diatas!!”, Salah seorang menunjuk ke atas.
Penuh dengan Monster-monster Zombie yang memiliki sayap, bersiap memangsa sekelompok manusia yang ada dihadapan monster itu
*DOR!!* *DOR!!*
Mereka semua menembaki Monster itu, satu persatu dari Monster itu berjatuhan.
“Aaaarrgghh!! Tolong akuuu!”, Salah seorang dari Tim itu dibawa oleh Monster itu terbang ke atas, entah apa yang terjadi.
Tim Hamna menembaki semua monster yang ada, namun jumlah mereka kalah dengan jumlah Monster yang ada, Satu persatu Monster itu jatuh, dua orang diantara Tim mereka telah mati dibawa Monster itu.
“Masuk kedalam Pintu Tengah! Cepat!”, Hamna mengarahkan ke Pintu yang mencolok diantara yang lain, dengan ukiran aneh disekelilingnya. Entah pintu itu akan membawanya ketempat yang aman, atau membuat mereka lebih buruk dari yang sekarang.
*DOR!!* *DOR!!*
Hamna dan yang lain Menembaki Monster demi melindungi anggota tim yang sedang menuju pintu, bisa dilihat masih ada yang dibawa oleh Zombie itu.
Jumlah anggota tim semakin berkurang setelah mereka memasuki pintu.
Pintu itu diblokade dengan barang-barang yang ada didalam ruangan itu, dan ruangan ini hanya sebuah ruangan biasa, ruangan tidur tepatnya.
“Istirahat lah sejenak, selagi kita mencari jalan keluar dari sini”
Tim ini hanya tertinggal 5 orang, Hamna, Dwita, Alex, Eric dan Edy. (*Ga ada perkenalan tokoh yaa, cerita apaan nih!!)
“Sok jadi pemimpin”, Gumam Eric
Namun gumaman itu terlalu nyaring sehingga Hamna mendengarnya
“Apa kau bilang? Apa kau mengatakanku menjadi sok pemimpin?”, Hamna gusar.
“Ya, Siapa yang menunjuk mu sebagai pemimpin? Tidak ada kan, jangan berlagak seperti kau pemimpinnya”
“Aku tidak berlagak seperti pemimpin!”
“Omongan kau saja, Siapa yang menyuruh kita masuk ke Gedung ini? Kau kan?”
“Kenapa kau tidak protes saat diperjalanan?!”
“Ah, Kau kesini hanya cari muka! Kau berlagak ingin menyelamatkan Orang tua gadis ini bukan?”, Eric menunjuk ke arah Dwita.
“Apa maksudmu? Kau ingin memimpin? Silahkan! Kita kesini bukan hanya untuk menyelamatkan orang tuanya, juga mencari jawaban!”
“Jawaban apa? Mengapa kita tidak bertahan hidup diluar sana saja, Kita kesini sama saja mencari Mati!”
Hamna segera mencengkram Eric, dan mengepalkan tangannya ingin memukul.
Wajahnya merah, nampak memendam rasa kesal yang ingin diluapkannya.
“Mau jadi pahlawan? Tampar!”, Goda Eric
Edy dan Dwita segera melerai pertengkaran yang terjadi, dan seperti biasa Alex hanya diam dan melamun.
“Cukup, kita harus mencari jalan keluar, bukan mencari masalah disini”, Ucap Edy.
“Ya, begitulah, apa kata mu saja lah”, jawab Eric, sambil berjalan ke pojok ruangan.
“Cih, kalau begitu setelah ini kau yang didepan! Dan kau yang jadi pemimpin”, Kata Hamna
“Baik, kita lihat saja!”
“Sudah ham, mungkin ini pengaruh situasi, wajar saja kita saat ini panik”, kata Dwita menenangkan.
Hamna hanya tersenyum, dan duduk bersandar di dinding.

--

Tim Dody yang beranggotakan Benny, Agus, Ricky dan juga para bencong yakni Susi, Eni, Afika, juga Adit yang memakai baju warna warni persis kayak Power Ranger abis Oplas gagal kejedot tembok *Gila lu ndrooo
Masih menyusuri lorong yang tak ada habisnya dari tadi, entah berapa lama mereka berjalan melalui lorong itu sambil mendengarkan nyanyian dari Trio Macan Kutil (Baca: Susi, Eni, dan Afika. Adit cuman main musiknya doang *Gimana main musik lagi tegang gini WOY! *Plak!) yang insya allah akan membuat kuping Dody dkk pecah. Terlihat wajah takut campur tegang serta mimik ngeden dari mereka .
“Mas ganteng, kita kapan nyampe nya nih, akika capekk”, Ucap Afika.
“Iya nihh, Eke juga rasa kaki eke mau copot, auhh”, Eni melanjutkan.
“Ho’oh, cucok cucok nih rasanyaa badann”, Susi menceletuk.
“Encok kalii!”, Sahut Benny.
“Gue juga ga tau kapan nih, Kita istirahat disini aja dulu”, Sahut Dody.
Mereka semua segera melepas peralatan dan duduk ditengah-tengah lorong itu, para banci pun melepas bajunya *eh kok Porno*
“Jangan lepas baju! Gue ga nafsuuuuuuu!!”, Kata Dody.
“Eke cuman ngelepas korseet, sakit tau”, Ucap Eni.
“Sapa suruh make korset”
“Biar Sexy *muach*”
*Dody, Benny, Agus, Ricky Muntah Berat*

Mereka tidak menyadari bahwa sesuatu didepan mereka, menghadang dan menunggu mereka sampai. Sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi.
Entah apa itu ..

-To Be Continued-

0 komentar:

Posting Komentar