“Aku ingin
kau menyelamatkanku, tolong aku Alex” Chris menangis
“Aku hanya
anak kecil, apa yang bisa kulakukan untuk menolongmu” Alex menjawab.
“Ada sesuatu
dari tubuhmu, kekuatan”
“Maksudmu?”
“Aku,
memasukkan sebuah sampel hasil karyaku kedalam tubuhmu, sampel yang hampir sama
dengan makhluk-makhluk yang berkeliaran diluar sana”
“Apa?! Kau
jahat Chris, menjadikan aku sebagai kelinci percobaan?”
“Bukan, kau
berbeda Al. Kau memiliki pertahanan tubuh yang sempurna, dan kau tak akan
pernah sakit”
“Tetap saja
kau jahat membuat aku sebagai kelinci percobaan”
“Al, waktu
ku tak banyak. Kau harus cepat menyelamatkanku”
“Chris,
bagaimana? Aku sendiri pun melihat jasad tubuhmu didalam Net kita”
“Itu hanya
Kloningku, Kau harus menolongku, secepat mungkin.. Kalau tidak..
AAAAARRGGHHHH”, Chris diseret oleh seorang Zombie raksasa masuk ke sebuah
ruangan.
“Chriiisss!!!
Tidaaakkk”. Terasa seperti ada yg mencengkramnya dari belakang.
“Hey nak,
Bangun”, Hamna menggetarkan badan Alex.
Alex
terbangun dan ternganga, ia masih didalam mobil ternyata.
“Disepanjang
jalan kau hanya tidur saja, apa kau kelelahan?”, tanya Dayat.
Alex
menggeleng, ia pun melihat keluar jendela, dan nampak tempat kerja kakaknya
yang tinggi hingga mencakar langit.
“Apa itu
hanya mimpi, Chris datang padaku, dan meminta tolong? Apa itu mungkin.”,
Gumamnya
*Clep* Dwita
menempelkan tangannya ke dahi Alex.
“Apa kau
sakit?”
Alex hanya
diam dan menggeleng.
“tubuhmu
keringatan, setidaknya kau istirahat”
Ia
menggeleng lagi, tanpa sadar ia mengucapkan apa yg ia mimpikan tadi.
“Chris
mendatangiku, ia bilang aku harus menyelamatkannya”, Ucapnya.
“APA?”, Kata
Hamna dan Dayat serempak.
“Hei, Aku
tahu bahwa aku yang membunuh kakakmu, maksudku, membunuh makhluk yang ada di
kakakmu. Apa yang kau maksud? Sudah jelaskan kakakmu itu sudah tiada”, Ucap
Hamna.
*Plak* Dwita
menampar hamna.
“Apa kau
bodoh? Sama saja kau menghancurkan harapannya!”
“Tidak, itu
bukan chris, itu hanya Kloning”, Bantah Alex.
“Chris yang
sebenarnya ada didalam sini, ia pun bekerja disini”
Hamna dan
yang lain pun Hanya bingung.
Mereka segera
menyiapkan senjata, sambil menunggu bis lainnya datang.
--
Rombongan
lain datang, lengkap dengan persenjataan.
Entah apa
yang akan terjadi saat mereka didalam, apa ini sebuah akhir? Atau sebuah awal
dari perjalanan yang panjang.
Dimana Dunia
manusia berubah menjadi neraka, Zombie dimana-mana, darah berceceran.
Memasuki
Payung Corp. Adalah hal yang mudah, namun apa isi dan bagaimana cara keluar
dari situ. Itu lah masalahnya.
Hamna dengan
semua rombongan yang ada, (Iya, yang banci juga ikut, mereka gemeteran, tapi
tetep aja masih berlaga banci) Membuka pintu masuk.
Lobby itu
gelap, hanya ada penerangan dari lampu neon yang berkedip-kedip, nampak seperti
sebuah kekacauan, Sama seperti keadaan diluar.
Darah
tersebar dimana-mana, namun anehnya tak ada jasad ataupun Zombie yang ada
disana.
“Oke, dari
sini kita berpencar. Dwita, Alex dan Tim 1 ikut aku”, Ucap Hamna.
“Tim 2 ikuti
Dayat”
“Dan Tim 3
serta bencong juga ikut gue, ya kan? Apes banget”, Dody nyahut.
“Sudah,
jangan berlama-lama, kita mungkin tidak sendiri disini.”
“Iiiihh,
Kita ikut mas ganteng cyiiin jeng, ah aseekkk”, ucap Susi sambil memeluk Dody.
*Dody mesti
mandi pake kembang 7 rupa*
“Ingat,
selalu nyalakan HT kalian, jangan pernah dimatikan. Dan yang terakhir, jangan
sampai jauh dari kelompok”, Ucap Hamna.
Mereka semua
berpencar, sejauh ini tidak ada Zombie yang terlihat, entah dimana Zombie itu
berkeliaran, yang jelas, tempat yang mereka injak sekarang adalah.
Tempat
dimana virus Zombie itu lahir.
“Apa kau tau
dimana Ruangan Ayahmu?”, Tanya Hamna.
“Ya, di
Basement bawah tanah, Sulit mencari tangga ke bawah jika tidak pakai lift”,
Ucap Dwita
“Dan, Al.
Darimana kau tahu bahwa kakakmu itu bekerja disini?”
Al hanya
terdiam dan menjawab “Ia mendatangiku, lewat mimpi”
Hamna marah
dan mencengkram bajunya “Jangan bercanda Al, Kita disini mempertaruhkan hidup
dan mati!”
“Sudah,
jangan seperti itu ham, dia kan anak kecil”, ucap Dayat
“Lepaskan
aku!”, Alex menggertak. Hamna melepaskannya, dan mulai menjauh dari Alex.
“Dan jangan
pernah panggil aku ‘Al’, hanya Chris yang boleh memanggilku itu!”
Hamna
tersentak, ia tak dapat berkata apa-apa lagi.
Perjalanan
dilanjutkan, Sejauh ini masih tidak terlihat Zombie, sampai akhirnya mereka
menemui sebuah ruangan yang memiliki banyak pintu.
“Pintu mana
nih yang kita masuki?”, Ucap Dwita
“Entah lah”
Sambil berjalan ketengah ruangan.
Sambil berjalan ketengah ruangan.
Tiba-tiba ,
“Awas diatas!!”, Salah seorang menunjuk ke atas.
Penuh dengan
Monster-monster Zombie yang memiliki sayap, bersiap memangsa sekelompok manusia
yang ada dihadapan monster itu
*DOR!!*
*DOR!!*
Mereka semua
menembaki Monster itu, satu persatu dari Monster itu berjatuhan.
“Aaaarrgghh!!
Tolong akuuu!”, Salah seorang dari Tim itu dibawa oleh Monster itu terbang ke
atas, entah apa yang terjadi.
Tim Hamna
menembaki semua monster yang ada, namun jumlah mereka kalah dengan jumlah
Monster yang ada, Satu persatu Monster itu jatuh, dua orang diantara Tim mereka
telah mati dibawa Monster itu.
“Masuk
kedalam Pintu Tengah! Cepat!”, Hamna mengarahkan ke Pintu yang mencolok
diantara yang lain, dengan ukiran aneh disekelilingnya. Entah pintu itu akan
membawanya ketempat yang aman, atau membuat mereka lebih buruk dari yang
sekarang.
*DOR!!*
*DOR!!*
Hamna dan
yang lain Menembaki Monster demi melindungi anggota tim yang sedang menuju
pintu, bisa dilihat masih ada yang dibawa oleh Zombie itu.
Jumlah
anggota tim semakin berkurang setelah mereka memasuki pintu.
Pintu itu
diblokade dengan barang-barang yang ada didalam ruangan itu, dan ruangan ini
hanya sebuah ruangan biasa, ruangan tidur tepatnya.
“Istirahat
lah sejenak, selagi kita mencari jalan keluar dari sini”
Tim ini
hanya tertinggal 5 orang, Hamna, Dwita, Alex, Eric dan Edy. (*Ga ada perkenalan
tokoh yaa, cerita apaan nih!!)
“Sok jadi
pemimpin”, Gumam Eric
Namun
gumaman itu terlalu nyaring sehingga Hamna mendengarnya
“Apa kau
bilang? Apa kau mengatakanku menjadi sok pemimpin?”, Hamna gusar.
“Ya, Siapa
yang menunjuk mu sebagai pemimpin? Tidak ada kan, jangan berlagak seperti kau
pemimpinnya”
“Aku tidak
berlagak seperti pemimpin!”
“Omongan kau
saja, Siapa yang menyuruh kita masuk ke Gedung ini? Kau kan?”
“Kenapa kau
tidak protes saat diperjalanan?!”
“Ah, Kau
kesini hanya cari muka! Kau berlagak ingin menyelamatkan Orang tua gadis ini
bukan?”, Eric menunjuk ke arah Dwita.
“Apa
maksudmu? Kau ingin memimpin? Silahkan! Kita kesini bukan hanya untuk
menyelamatkan orang tuanya, juga mencari jawaban!”
“Jawaban
apa? Mengapa kita tidak bertahan hidup diluar sana saja, Kita kesini sama saja
mencari Mati!”
Hamna segera
mencengkram Eric, dan mengepalkan tangannya ingin memukul.
Wajahnya
merah, nampak memendam rasa kesal yang ingin diluapkannya.
“Mau jadi
pahlawan? Tampar!”, Goda Eric
Edy dan
Dwita segera melerai pertengkaran yang terjadi, dan seperti biasa Alex hanya
diam dan melamun.
“Cukup, kita
harus mencari jalan keluar, bukan mencari masalah disini”, Ucap Edy.
“Ya,
begitulah, apa kata mu saja lah”, jawab Eric, sambil berjalan ke pojok ruangan.
“Cih, kalau
begitu setelah ini kau yang didepan! Dan kau yang jadi pemimpin”, Kata Hamna
“Baik, kita
lihat saja!”
“Sudah ham,
mungkin ini pengaruh situasi, wajar saja kita saat ini panik”, kata Dwita
menenangkan.
Hamna hanya
tersenyum, dan duduk bersandar di dinding.
--
Tim Dody
yang beranggotakan Benny, Agus, Ricky dan juga para bencong yakni Susi, Eni,
Afika, juga Adit yang memakai baju warna warni persis kayak Power Ranger abis
Oplas gagal kejedot tembok *Gila lu ndrooo
Masih
menyusuri lorong yang tak ada habisnya dari tadi, entah berapa lama mereka
berjalan melalui lorong itu sambil mendengarkan nyanyian dari Trio Macan Kutil
(Baca: Susi, Eni, dan Afika. Adit cuman main musiknya doang *Gimana main musik
lagi tegang gini WOY! *Plak!) yang insya allah akan membuat kuping Dody dkk
pecah. Terlihat wajah takut campur tegang serta mimik ngeden dari mereka .
“Mas ganteng,
kita kapan nyampe nya nih, akika capekk”, Ucap Afika.
“Iya nihh,
Eke juga rasa kaki eke mau copot, auhh”, Eni melanjutkan.
“Ho’oh,
cucok cucok nih rasanyaa badann”, Susi menceletuk.
“Encok
kalii!”, Sahut Benny.
“Gue juga ga
tau kapan nih, Kita istirahat disini aja dulu”, Sahut Dody.
Mereka semua
segera melepas peralatan dan duduk ditengah-tengah lorong itu, para banci pun
melepas bajunya *eh kok Porno*
“Jangan
lepas baju! Gue ga nafsuuuuuuu!!”, Kata Dody.
“Eke cuman
ngelepas korseet, sakit tau”, Ucap Eni.
“Sapa suruh
make korset”
“Biar Sexy
*muach*”
*Dody,
Benny, Agus, Ricky Muntah Berat*
Mereka tidak
menyadari bahwa sesuatu didepan mereka, menghadang dan menunggu mereka sampai.
Sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi.
Entah apa
itu ..
-To Be Continued-

0 komentar:
Posting Komentar